Senin, 26 Agustus 2019

Teknologi Informasi Bina Nusantara




TEKNOLOGI INFORMASI Terus mengindikasikan perkembangan signifikan, industri blokchain jadi pilihan unik untuk dikembangkan di Indonesia.

CEO Indonesia Digital Asset Exchange (INDODAX) Oscar Darmawan mengugkapkan bahwa industri blokchain telah bertransformasi lumayan banyak. Bahkan, pemerintah telah memutuskan blokchain sebagai di antara komoditas dan legal guna ditransaksikan.

Oscar menjelaskan, teknologi blokchain bukan sekedar mata duit crypto atau yang biasa dikenal dengan bitcoin, melainkan pun teknologi. Dia menyadari, literasi blokchain masih paling rendah di Indonesia, untuk tersebut ke depan diinginkan minimal pemakai IT Tanah Air sudah mengetahui apa tersebut blokchain.

"Harapannya, ke depan dapat seimbang, di aman blokchain dapat dimanfaatkan dari segi teknologi, dan blokchain sebagai investasi. Dibandingkan negara lain, Indonesia tergolong yang terbelakang dalam memanfaatkan blokchain," kata Oscar untuk Kontan.

Direktur Eksekutif Asosiasi Blokchain Indonesia Muhammad Devito Duinggo mengatakan, sejak mula 2019 sampai saat ini jumlah startup blokchain telah tumbuh sejumlah 30%. Dengan begitu, startup yang telah terdaftar di Asosiasi ketika ini menjangkau 30 perusahaan, dari semulai di 2018 melulu 6 perusahaan.

Kondisi tersebut, dinilai Devito sekaligus menggambarkan pertumbuhan industri blokchain di Tanah Air. Harapannya di 2020 jumlah startup dapat meningkat sampai lima kali lipat, atau paling tidak menjadi 100 perusahaan blokchain dan berasal tidak saja dari Indonesia tapi pun startup di Asia Tenggara.

Sebagai informasi, ketika ini startup blokchain di Indonesia masih didominasi perusahaan dalam negeri dan didominasi bursa perniagaan kripto aset atau selama 70%. Sedangkan guna sisanya adalahperusahaan supply chain, perpajakan dan manajemen data.


"Bahkan, Indonesia punya potensi guna menjadi pemimpin pasar blokchain di dunia. Ditambah lagi, dari regulasi pemerintah ingin memberikan lampu hijau untuk perniagaan aset crypto," ujarnya.

Adapun sejumlah tantangan terbesar industri blokchain, diungkapkan Devito laksana stigma dan miskonsepsi yang melekat terhadap bitcoin, di mana blokchai dirasakan sebagai bitcoin. Di sisi lain, stigma bitcoin sebagai perangkat pendanaan guna terorisme dan pencucian uang pun masih melekat di masyarakat. 

Padahal, Devito menegaskan bahwa pemakaian teknologi blokchain tidak terbatas pada aset crypto saja, tetapi pun sebagai teknologi pencatatan. Sehingga semua format transaksi yang perlu pencatatan dapat memanfaatkan teknologi blokchain, mulai dari kesehatan, charity, supply chain dan lainnya. Dia pun mengungkapkan bahwa literasi masyarakat tergadap blokchain tidak cukup dari 1%.


Dosen Bina Nusantara (Binus) Hugo Prasetyo mengatakan, pemanfaatan blokchain sebagai investasi mempunyai prospek yang lumayan besar, lagipula belanja crypto currency telah mendapat legalitas dari Bappebti. Bahkan guna potensi yield, Hugo mengungkapkan paling menggiurkan.

"Yieldnya tersebut seperti guna tanpa batas, rugi tanpa batas. Sehingga, urgen untuk diterapkan manajemen risiko. Dibandingkan investasi saham, saat harga bergerak binal adan Bursa Efek Indonesia (BEI) yang membatasi, namun tidak dengan crypto currency," ujar Hugo untuk Kontan, Rabu (14/8).

Untuk itu, penerapan managemen risiko perlu dilaksanakan saat harga crypto currency melesat naik 5%-10%, investor direkomendasikan untuk mengerjakan cut loss. Hugo mengungkapkan terdapat tiga urusan yang perlu diacuhkan saat mengerjakan investasi di blokchain, terutama crypto currency yakni mengetahui teknikal analisis, mendasar analisis dan emotional analisis.

0 komentar:

Posting Komentar