Kamis, 04 Juli 2019

TEKNOLOGI INFORMASI | teknologi informasi negara

TEKNOLOGI INFORMASI


Teknologi informasi: pemerintah Indonesia menyetujui Kementerian Perindustrian dan Kementerian Sekretariat Negara terus mendukung pengembangan Industri Kecil dan Menengah (IKM) di negara-negara yang tergabung dalam Colombo Plan. The Colombo Plan adalah organisasi regional untuk memperkuat status ekonomi dan sosial negara-negara anggotanya di distrik Asia-Pasifik.

“Tahun ini ialah yang keempat kalinya Indonesia menjadi tuan rumah. Kami berharap pelatihan ini dapat dilaksanakan dengan baik hingga merangsang pengembangan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja di negara-negara di Colombo Plan, "kata Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Beragam (IKMA) Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih dalam Surabaya

Gati menyampaikan urusan tersebut pada pembukaan pekerjaan yang bertema Capacity Building Program on Enhancing The Development of Small and Medium Industry 2019. Ini adalahsebuah program pelatihan dalam kerangka Kerja Sama Teknik Selatan-Selatan dan Triangular (KSST).


Berdasarkan keterangan dari Gati, Kemenperin melewati Ditjen IKMA sudah berpartisipasi aktif dalam KSST semenjak tahun 2012 melewati pelatihan dan penambahan kapasitas sumber daya insan untuk negara-negara laksana Liberia, Mozambik, Laos, dan Republik Seychelles.

“KSST menjadi salah satu format kerja sama Indonesia dalam pembangunan internasional yang menolong negara-negara berkembang lainnya dengan teknik berbagi pengetahuan melewati mekanisme bilateral atau triangular,” paparnya.

Pelatihan untuk peserta anggota Colombo Plan ini dilangsungkan selama tanggal 2-13 Juli 2019 di Surabaya, yang dibuntuti sebanyak 19 peserta. Mereka berasal dari Bangladesh, Bhutan, Laos, Myanmar, Nepal, Pakistan, Iran, Malaysia, Brunei, Maladewa, India, dan Indonesia.
“IKM sudah menjadi sumber mata pencaharian untuk masyarakat di mayoritas negara anggota Colombo Plan. Bagi itu, tugas kami sebagai pemerintah guna memberikan sokongan terbaik untuk mereka dalam pengembangan bisnis terutama di sektor IKM," ujar Gati.

Dirjen IKMA menambahkan, di samping mendapat sesi ruang belajar mengenai pertumbuhan IKM di Indonesia, peserta juga disuruh mengikuti workshop penciptaan sepatu di Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI) di Sidoarjo, Jawa Timur. BPIPI adalahunit di bawah Ditjen IKMA.


“Para peserta punakan mendatangi Unit Pelayanan Terpadu (UPT) Industri Makanan, Minuman dan Kemasan di Jawa Timur dengan pekerjaan pengamatan layanan keliling dan mini workshop penciptaan makanan enteng sehat,” imbuhnya.

Adapun pelaku industri yang akan disambangi oleh semua peserta, yaitu PT Legong Bali (industri menengah ragam kerupuk), Verne Indonesia (IKM tas), Dientje Aksesories (IKM perhiasan), Fashion Shoes (IKM sepatu), Batik Negi (IKM batik), dan Sokressh (IKM makanan enteng dari apel).

“Para peserta pun akan mengerjakan kunjungan kebiasaan ke Mojokerto, guna mengenal sejarah kerajaan Majapahit di Museum Trowulan Majapahit, dan berkeliling ke sebanyak candi sepertiCandi Bajang Ratu, Candi Tikus dan Candi Gentong. Terakhir, peserta diangkut mengenal pembudidayaan Apel Malang dan penciptaan makanan enteng dari buah kehormatan hati Jawa Timur itu,” sebut Gati.

Dengan mengangkat tema "Pemberdayaan IKM melewati Layanan Pengembangan Bisnis", Dirjen IKMA menyampaikan, pihaknya bercita-cita peserta mendapat wawasan dan dapat berbagi empiris di dua tempat, yakni BPIPI Sidoarjo serta UPT Industri Makanan, Minuman, dan Kemasan di Jawa Timur.

“Keduanya sudah terbukti mempunyai layanan yang paling baik untuk pelaku IKM untuk penciptaan sepatu, makanan dan minuman serta pengemasan, khususnya di Jawa Timur,” tuturnya. Gati pun menyampaikan, ketika ini dunia telah menginjak era ekonomi digital, di mana model bisnis yang paling tidak sedikit dijalankan didasarkan pada teknologi informasi dan komunikasi.


“Maka itu, selain merealisasikan industri 4.0 di lini produksi, sokongan teknologi informasi dan internet juga diperlukan IKM dalam pemasaran,” tandasnya. IKM ketika ini bisa menggunakan sekian banyak  cara pemasaran dan mendapatkan tidak sedikit pilihan untuk memasarkan produk mereka dengan ongkos lebih rendah melewati marketplace dan media sosial.

“Kami sudah mengembangkan kepandaian untuk lebih menolong IKM mempromosikan produk melewati marketplaceyang dinamakan e-Smart IKM. Program ini memungkinkan IKM mengakses pasar yang lebih banyak melalui e-commerce. Sistem terdiri dari basis data IKM dalam format direktori data dan produk,” jelasnya.

Dirjen IKMA berharap, program pelatihan IKM untuk peserta dari Colombo Plan ini akan berfungsi dan memberi perspektif baru guna pengembangan IKM di negara masing-masing. “Kami optimistis bahwa program kami ini bakal terus berkontribusi pada penguatan KSST serta memperkuat persahabatan antara Indonesia dengan negara-negara anggota Colombo Plan lainnya," pungkasnya.

0 komentar:

Posting Komentar