Kamis, 04 Juli 2019

TEKNOLOGI INFORMASI | teknologi informasi harian

TEKNOLOGI INFORMASI



teknologi informasi - Perkembangan teknologi informasi ketika ini tidak sedikit dimanfaatkan orang untuk sekian banyak  kegiatan penunjang aktivitas. Tidak terkecuali bisnis prostitusi di Tasikmalaya. Para Pekerja Seks Komersial (PSK) memanfaatkan teknologi informasi ini yang ketika ini berkembang. Dari pencarian Ayotasik.com, praktik prostitusi di Tasikmalaya terus berkembang. 

Jika sebelumnya sebanyak PSK mangkal di satu lokasi, namun sekarang sudah mulai berkurang. Jalan-jalan di Kota Tasikmalaya yang tidak jarang dijadikan lokasi mangkal PSK di antaranya laksana Jalan Mayor Utarya atau yang biasa dinamakan jalan PLN, Eks Terminal Cilembang dan Seputaran Pasar Cikurubuk Kota Tasikmalaya. 

"Iya bila dulu mah dijalan ini (Jalan PLN) malam hari tidak sedikit yang mangkal. Tapi sekarang sangat sedikit terdapat 6 orang bahkan kurang, " papar Roni Permana (40) salah satu empunya warung di jalan Mayor Utarya. Saat ini, sebanyak PSK lebih memilih menawarkan jasanya melewati media sosial. Di Tasikmalaya sendiri, terdapat satu software chating yang tidak sedikit dipakai oleh PSK menjajakan jasanya. Mereka secara terang-terangan menawarkan jasanya dengan menaruh tulisan "Open BO". 


Para PSK yang menggunakan software perpesanan tersebut bahkan tidak canggung ketika menawarkan jasanya. Mulai dari harga dan tempat tempat pertemuan. Rata-rata, mereka memutuskan tarif Rp500.000 sampai Rp1,5 juta guna satu kali kencan atau short time. Salah satu PSK yang dihubungi, Sherin mengaku, terjun ke dunia prostitusi sebab tuntutan gaya hidup. 

Pembawaan hidup mewah semasa kuliah di di antara sekolah tinggi di Tasikmalaya membuatnya terjerumus dalam profesi ini. Pasalnya ia pun menyatakan tak mempunyai kemahiran khusus. 



"Sudah nyaris dua tahun saya terjun, ya sebab tuntutan ekonomi. Namanya pun perempuan hendak segalanya dan tidak sedikit maunya. Kalau saya guna short time enam ratur ribu, " kata wanita berkulit putih tersebut. Dipilihnya software perpesanan sebagai media menawarkan jasa. 

Ia menilai lewat software itu, profesinya lebih terlindungi dari aksi razia petugas Satpol PP Kota Tasikmalaya. Di samping itu, Sherin tak mesti berdiam atau mangkal menantikan tamu hidung belang datang. Biasanya, lanjutnya, sesudah bersepakat dengan calon pelanggan soal harga, Sherin bakal meminta orang tersebut datang ke indekos lokasinya tinggal di Kecamatan Tawang Kota Tasikmalaya. 


"Kalau saya seringkali di Kost aja lebih aman, jadi tamu saya suruh datang ke kost. Karena kan kini petugas lagi rajin rajia ke hotel, jadi menghindari tersebut saja, " kata wanita asli Kecamatan Cibalong ini. Di samping indekos, hotel melati sampai hotel bintang dua pun dijadikan lokasi untuk melayani tamu hidung belang. 

Praktik ini dilaksanakan Maria (25). Melalui software serupa, tamu yang sudah sepakat soal tarif jasa, Maria persilahkan mengunjungi salah satu hotel lokasinya biasa mangkal. "Saya udah kerjasama gitu sama petugas hotelnya, jadi terdapat kamar khusus. Jadi tiap melayani tamu ya telah saya suruh ke hotel tersebut dan anda main," kata Maria.

0 komentar:

Posting Komentar