Jumat, 19 Juli 2019

Teknologi Informasi | teknologi informasi 2012


Komisi Perdagangan Federal (Federal Trade Commision/ FTC) menjatuhkan denda sebesar US$5 miliar atau selama Rp69 triliun (US$1= Rp13.980) untuk Facebook. Perusahaan kepunyaan Mark Zuckerberg ini dituduh mengerjakan serangkaian pelanggaran privasi, salah satunya skandal yang melibatkan Cambridge Analytica.

Denda yang dijatuhkan FTC terhitung besar, pasalnya tuntutan sebelumnya melulu denda sebesar US$22,5 juta atau selama Rp3,1 miliar untuk permasalahan serupa yang menimpa Google pada 2012 lalu.

Hasil gambar untuk Facebook Didenda Rp69 T Akibat Kasus Pelanggaran Privasi

Teknologi Informasi - Komisi Perdagangan Federal membuka investigasi salah satu permasalahan terbesar Facebook yaitu skandal kebocoran 87 juta data pemakai yang melibatkan Cambridge Analytica. Mengingat perusahaan diketahui menjadi konsultan politik yang memenangkan Donald Trump pada pemilihan presiden AS 2016 silam.

Cambridge Analytica diperkirakan mengantongi jutaan informasi pemakai Facebook secara ilegal guna kepentingan kampanye Trump. Data-data itu disebut dibeli dari seorang akademisi memakai sebuah software yang terintegrasi dengan Facebook untuk menculik data tanpa sepengetahuan mereka.

Di sisi lain, Facebook diketahui telah mengerjakan perjanjian untuk FTC bahwa mereka tidak bakal berbagi data dengan pihak ketiga tanpa persetujuan. Namun, sebanyak regulator mengejar bahwa perusahaan melanggar perjanjian itu.

Menyoal denda yang dikeluarkan FTC, anggota lembaga antimonopoli Open Markets Institute Matt Stoller mengungkapkan denda tersebut bukanlah penyelesaian untuk menciptakan Facebook jera.

"Mereka dapat menerbitkan denda yang paling besar, tetapi kami tidak memandang urusan tersebut baik-baik saja. Kami memerlukan solusi struktural," kata Stoller seperti dikutip Reuters.


Sementara itu, dua senator Richard Blumenthal dan Josh Hawley sempat mengantarkan surat untuk FTC mula Mei lalu. Keduanya meminta FTC menyerahkan perubahan besar-besaran untuk menyelesaikan pola penyalahgunaan data pribadi melewati platform media sosial laksana Facebook.

Mega skandal Cambridge Analytica dirasakan sebagai pintu gerbang pemerintah AS untuk menambah regulasi berhubungan data individu pemakai yang ditabung oleh sebanyak perusahaan teknologi.

Oleh karena itu, Trump dan jajarannya sudah berulang kali memanggil semua pemimpin perusahaan teknologi AS guna dimintai penjelasan soal bagaimana mereka mengayomi data individu pemakai.

Kekhawatiran terhadap perusahaan teknologi tak melulu sebatas pada sektor privasi, FTC diketahui telah menyusun tim untuk menginvestigasi isu monopoli yang diayunkan kepada Facebook dan Alphabet Inc, perusahaan yang menaungi Google.

Dalam sebuah peluang CEO Mark Zuckerberg menegaskan bahwa pihaknya akan konsentrasi pada hal privasi pemakai.

"Saya percaya Facebook mempunyai tanggung jawab untuk menolong mengatasi masalah ini [privasi] dan saya menanti guna membahasnya dengan anggota parlemen di semua dunia," jelas Zuckerberg.

0 komentar:

Posting Komentar