Kamis, 11 Juli 2019

Teknologi Infomrasi | teknologi informasi kesehatan


Lima tahun penerapan layanan digital dari Program Asuransi Kesehatan Nasional - Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) inovasi berkembang pesat. Bahkan mulai merasakan tatanan sistem kesehatan di Indonesia. Dalam implementasi JKN-KIS, ekosistem teknologi informasi terbentuk secara alami di tengah keterbatasan revolusi industri 4.0.

“Kita tidak dapat melawan arus pertumbuhan teknologi informasi, mengelak atau bahkan menolaknya. Berbagai layanan digital yang tumbuh di era JKN-KIS bakal mendobrak dan mengolah cara beranggapan masyarakat, lebih jauh akan membawa revolusi besar dalam tatanan sistem pelayanan kesehatan di Indonesia,” kata Deputi Direksi Wilayah DKI Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi BPJS Kesehatan, Ni Made Ayu Ratna Sudewi dalam acara Public Expose BPJS Kesehatan 2019 di Jakarta,


Teknologi Informasi - Ratna menambahkan pemanfaatan teknologi informasi pun akan menjadi kesempatan untuk Program JKN-KIS guna mendorong sistem pembiayaan dan pelayanan kesehatan yang berbobot | berbobot | berkualitas namun tetap efektif dan efisien dari segi pembiayaan.

“Hal itu harus mulai diadaptasi oleh pihak yang tercebur dalam Program JKN-KIS. Mulai dari peserta, kemudahan kesehatan, tenaga kesehatan dan semua pemangku kepentingan lain. Kita mesti siap berubah mengarah ke digitalisasi pelayanan kesehatan,” kata Ratna.

Ratna menyatakan BPJS Kesehatan mengembangkan berbagai software yang diinginkan dapat menyokong keberlangsungan program ini. Setidaknya terdapat 5 ekspektasi peserta dari pelayanan JKN, diantaranya fasilitas memperoleh informasi berhubungan Program JKN-KIS, fasilitas dan kecepatan mendaftar, fasilitas dan kepastian menunaikan iuran, mendapat garansi di kemudahan kesehatan serta, serta mengucapkan keluhan dan mendapat  solusi.


Dari sisi fasilitas dalam mendapat  informasi BPJS Kesehatan sudah mengembangkan software Mobile JKN. Mobile JKN ialah one stop service yang terus dikembangkan BPJS Kesehatan dan dapat dipakai untuk mendapat  informasi, mengikutsertakan diri, menunaikan iuran, memahami informasi kepesertaan, informasi kesehatan (tele consulting) dan ke depan bakal dikembangkan sistem antrian pelayanan kesehatan.

Di sisi fasilitas pendaftaran sudah dikembangkan tidak sedikit kanal pendaftaran terutama berbasis teknologi informasi yaitu pencatatan secara online, melewati Mobile JKN, melewati BPJS Kesehatan Care Center 1500400. BPJS Kesehatan pun mengembangkan elektronik data badan usaha (e-Dabu) untuk pencatatan peserta kelompok Pekerja Penerima Upah (PPU) yang sangat mempermudah pemberi kerja guna mendaftarkan serta meng-update data peserta.

Dari sisi fasilitas dan kepastian pembayaran iuran, dapat dilaksanakan melalui autodebit baik melewati bank maupun non-bank via software Mobile JKN, e-commerce, dll. Saat ini sejumlah 686.735 kanal pembayaran iuran bisa dipilih dan dimanfaatkan peserta JKN-KIS.


Dari sisi pelayanan kesehatan, pemanfaatan teknologi dikembangkan mulai dari pemakaian software Health Facilities Information System (HFIS), Rujukan Online, Klaim Digital (Vedika), pemanfaatan finger print di kemudahan kesehatan serta Deteksi Potensi Fraud melewati Analisa Data Klaim (Defrada). Pengembangan ini diimplementasikan supaya pelayanan kesehatan yang diterima oleh peserta efektif, tepat guna namun tetap mengedepankan bobot dan kualitas.

Dari sisi fasilitas menyampaikan keluhan BPJS Kesehatan mengembangkan software Sistem Informasi Penanganan Pengaduan (SIPP) yang terintegrasi baik di kemudahan kesehatan, kantor cabang BPJS Kesehatan, Mobile JKN, BPJS Kesehatan Care Center 1500400, Website dan LAPOR!. Pengelolaan Pengaduan ini mendapat apresiasi dari Kementerian PANRB di tahun 2018. BPJS Kesehatan menjadi 10 lembaga terbaik dalam pengelolaan pengaduan pelayanan publik.

0 komentar:

Posting Komentar