Jumat, 28 Juni 2019

Teknologi Informasi | teknologi informasi sebagai keunggulan kompetitif


Tahun 2004, seniman Inggris William Cobbing menciptakan sebuah karya performatif yang brilian: Excavation. Diunggah dalam video pendek, karya itu menampakkan seorang laki-laki menghantamkan palu ke pahat beton berulang kali. Melihat judulnya, adegan demikian akan mengingatkan pemirsa pada kerja-kerja arkeolog saat mencari situs purbakala. Hanya, yang dihantam laki-laki dalam video itu bukanlah suatu situs, tetapi kepalanya sendiri yang telah ‘menjelma jadi batu.’ Ekskavasi versi Cobbing seolah mengindikasikan bahwa situs sangat berharga dalam diri insan ada di dalam kepalanya.

Teknologi Informasi | teknologi informasi sebagai keunggulan kompetitif


     Teknologi Informasi - Karena itu, isi kepala batu itu mesti terus diekskavasi: terus dirombak dan digali. Di ketika bersamaan, penggalian versi Cobbing juga dapat diartikan sebagai representasi atas kehidupan dunia modern: insan terus membina dan membina sehingga kepala mereka sekali pun—disampaikan Cobbing lewat teknik yang puitik—senantiasa dipenuhi semen dan beton. Lepas dari tafsiran di atas, laksana halnya dalam kehidupan modern, semen dan beton memang punya status penting dalam karya-karya Cobbing. Di samping Excavation, karya Cobbing yang lain, contohnya Long Distances dan Kiss, terlihat hidup dan menggentarkan malah karena kehadiran material bahan bangunan tersebut. Dalam konteks semacam itulah Cobbing menunjukkan: kreativitas memungkinkan semen dan beton untuk diubah menjadi apa saja.
     Di tengah gelombang disrupsi, urusan yang menjadi penanda revolusi digital hari ini, upaya menciptakan semen dan beton menjadi apa saja diperlihatkan perusahaan BUMN Semen Indonesia. Menyandang nama semen tidak menciptakan mereka terpaku memproduksi semen saja. Keluar dari zona nyaman, Semen Indonesia bahkan merambah sekian banyak  macam produk dan jasa dari bidang konstruksi sampai ke layanan digital. Di bidang produk, pabrikan plat merah ini memproduksi sekian banyak  macam tipe semen, readymix concrete, beton pracetak, mortar (semen instan), dan beda sebagainya. Sedangkan di bidang jasa, Semen Indonesia meluangkan jasa pengelolaan terminal dan kemudahan pelabuhan, konstruksi, logistik, pengelolaan limbah, trading, sampai layanan teknologi informasi, dan lain-lain.


     Di era se-kompetitif ketika ini, dapat jadi, lazimnya pelaku usaha memandang disrupsi sebagai ancaman yang susah dihindari. Padahal, layaknya suatu karya seni, situasi demikian sebetulnya dapat ditanggapi lewat sekian banyak  cara pandang. Semen Indonesia memilih mengetahui disrupsi sebagai momentum untuk mengerjakan transformasi. Ingat, dalam teori evolusi, Charles Darwin menuliskan bahwa yang mampu bertahan bukanlah yang sangat kuat atau sangat cerdas, tetapi yang paling dapat menyesuaikan diri dengan perubahan. “Seiring dengan situasi saat ini kami senantiasa terus menambah sinergi dan inovasi demi mencapai kelebihan kualitas,” cerah Hendi Prio Santoso, Direktur Utama Semen Indonesia Berselancar di atas Gelombang Disrupsi Pakar marketing, Philip Kotler (2015) menyebut penganekaragaman produk adalahsalah satu teknik untuk menambah kinerja bisnis yang terdapat dengan jalan mengidentifikasi peluang meningkatkan bisnis unik yang tidak sehubungan dengan bisnis perusahaan ketika ini.
     Saat disrupsi melanda semua sendi kehidupan, tak terkecuali bisnis konstruksi, upaya Semen Indonesia melakukan penganekaragaman produk terlihat pada usahanya memproduksi sekian banyak  kebutuhan bahan bangunan, salah satunya precast atau beton pracetak. Sekarang, bayangkan andai membuat lokasi tinggal atau bangunan tak ubahnya seperti merangkai lego, berapa tidak sedikit waktu dan sumber daya yang bisa dipangkas? Dalam situasi demikian, insan tidak semata memerlukan bangunan berkualitas, namun pun membutuhkan bahan dan teknologi yang memungkinkan proses penciptaan rumah atau bangunan berlangsung ringkas dan efisien. Karena itulah ketersediaan produk-produk penunjang konstruksi prefabrikasi atau prefab—hal yang menciptakan proses membina rumah atau bangunan laksana halnya merangkai lego—menjadi sebuah keharusan.
     “Semen Indonesia siap mengisi keperluan pasar di lokasi produk turunan semen, di antara produknya ialah precast,” kata Sigit Wahono, General Manager of Corporate Communication PT Semen Indonesia. Saat ini, Semen Indonesia telah berhasil mengakuisisi Holcim Indonesia dan mengolah namanya menjadi PT Solusi Bangun Indonesia. Di samping upaya melawan disrupsi, urusan itu menegaskan ambisi Semen Indonesia guna memperkuat posisinya dalam bisnis persemenan. Di ketika bersamaan, upaya Semen Indonesia dalam melawan disrupsi juga diperlihatkan dengan mengembangkan produk dan jasa nonsemen, salah satunya, pengembangan bisnis Teknologi Infomarsi (TI).Melalui anak perusahaannya, PT Sinergi Informatika Semen Indonesia (SISI), Semen Indonesia memberikan layanan teknologi informasi kepada berbagai perusahaan negara atau swasta. Dari belasan perusahaan yang telah menggunakan layanan PT SISI, tujuh di antaranya adalah: Mandiri Syariah, Telkom Sigma, Kimia Farma, Precast Waskita, PTPN III Holding, Bulog dan Pos Indonesia. "SISI adalah mitra strategis Semen Indonesia dalam pemenuhan solusi TI, serta anak perusahaan yang akan mendukung pertumbuhan lini bisnis klien.


     SISI telah terbukti menjadi tumpuan dalam menyokong bisnis Semen Indonesia dalam mengimplementasikan TI,” sambung Sigit Wahono. Portofolio SISI pun terlihat dalam peranannya mengintegrasikan operasional TI untuk seluruh pabrik dan kemudahan packing plant yang sedang di bawah naungan Semen Indonesia. Diketahui, Semen Indonesia mempunyai 9 pabrik semen terpadu (Integrated Cement Plant) di Sumatera, Jawa, Sulawesi, dan Vietnam; 6 kemudahan penggilingan (Grinding Plant) di Jawa, Sumatera, dan Vietnam; 31 kemudahan pengemasan (Packing Plant) di Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Sulawesi, Maluku, dan Papua; serta 11 pelabuhan di Sumatera, Jawa, Sulawesi, dan Vietnam. Sebaran lokasi kerja itu menunjukkan, walau sejauh ini bergerak di bidang konstruksi dan manufaktur, Semen Indonesia terbilang tangkas dalam mengadopsi proses digitalisasi sebagai jantung tata kelola perusahaannya.

     Bagaimanapun, optimalisasi TI dibutuhkan setiap perusahaan supaya simplifikasi dan automasi bisnis dapat berjalan dengan baik. Kehadiran SISI dalam tubuh Semen Indonesia memang dimaksudkan guna menggapai urusan demikian. Lepas dari destinasi tersebut, eksistensi SISI dalam struktur usaha Semen Indonesia pun sejalan dengan program Making Indonesia 4.0 yang dipermaklumkan Presiden Joko Widodo. “SISI dengan bisnis ICT-nya dapat masuk sektor bisnis dan industri lainnya secara luas sebab semua perusahaan pasti memerlukan TI,” pungkas sigit. Sejauh ini, semua upaya yang dilaksanakan Semen Indonesia menunjukkan: walau gelombang disrupsi melanda apa saja, holding kesatu BUMN itu sanggup menari di atasnya bahkan siap berkembang bersamanya. Seiring bertambahnya tantangan sekaligus kompetisi di industri, Semen Indonesia pun mengolah visi mereka menjadi perusahaan penyedia penyelesaian bahan bangunan utama di kancah regional, serta dapat meningkatkan kapasitas dirinya dari sekadar jawara di kancah nasional.





0 komentar:

Posting Komentar