Sabtu, 22 Juni 2019

Teknologi Informasi | teknologi informasi perkantoran modern


Anda barangkali pernah tahu sederet kalimat di atas. Ungkapan dalam meme yang diciptakan warganet di Indonesia guna mengekspresikan alangkah bermaknanya WiFi, sekaligus mencerminkan 'penderitaan' saat tak bisa mengaksesnya.

Teknologi Informasi | teknologi informasi perkantoran modern

Teknologi Informasi - Jika pada satu dasawarsa lalu anda tetap sering mendengar 'buku ialah jendela dunia', sekarang di era teknologi informasi dalam cengkeraman tangan, kelihatannya kalimat tersebut tergantikan dengan 'internet ialah jendela dunia'. Namun peran dua-duanya - baik kitab maupun internet - ialah sama, yakni memperluas wawasan.

Internet mempunyai keunggulan dari segi kecepatan, sampai-sampai tak heran masyarakat canggih mengandalkannya guna mengantongi keterangan tentang sekian banyak  hal, berselancar di media sosial, bahkan melakukan pembelian barang melalui gadget. Bagi mengakses tersebut semua, mereka butuh peralatan elektronik guna bertukar data secara nirkabel, dan WiFi-lah jawabannya - di samping paket data dari provider jaringan.


Ibarat kata anak muda zaman sekarang, gadget modern dan WiFi gratis ialah segalanya.

Menyadari keperluan masyarakat yang begitu tinggi terhadap WiFi, sebanyak tempat publik juga menawarkan akses WiFi cuma-cuma untuk menciptakan nyaman pengunjung. Katakanlah restoran, bandara, transportasi publik, perkantoran, sampai kafe-kafe memajang banner 'Free WiFi' sebagai kemudahan untuk unik pengunjung.

Namun tidak sedikit masyarakat yang tak menyadari potensi risiko riskan di balik WiFi gratis. Meski isu ketenteraman tentang WiFi bukan barang baru, perusahaan ketenteraman siber ESET mengemukakan sejumlah data riset tentang bahaya WiFi publik.

Dalam penjelasan pers,  ESET menyatakan salah satu aspek bahaya WiFi publik. Yang sangat umum ialah serangan Man in the Middle (MitM), di mana seorang peretas menghadang komunikasi antara dua pihak, lantas mencuri informasi individu korban yang bisa disalahgunakan peretas guna keuntungan mereka.

Persoalan MitM tersebut kemudian sehubungan dengan informasi individu yang ditabung oleh pemakai di ponsel. Masih bersumber dari ESET, pihaknya telah mengerjakan survei di distrik Asia Pasifik bahwa 32 persen konsumennya menyimpan informasi mereka secara online. Jika peretas sukses menyusup melewati WiFi publik, urusan ini berpotensi terhadap celah kerentanan di mana data-data individu pemakai bisa disalahgunakan.

Memang, ESET berasumsi bahwa angka 32 persen tidaklah tinggi, tetapi seharusnya bisa ditekan lagi sampai-sampai lebih rendah.




Perlu disalin juga, kecuali Thailand, seluruh negara dalam survei ESET itu ialah negara yang memakai ponsel dengan rata-rata 61 persen responden menuliskan menggunakan ponsel mereka guna transaksi online.

Ini ialah alasan yang butuh diperhatikan, menilik ponsel belum dilengkapi dengan solusi ketenteraman siber yang kuat. Dan yang lebih memperburuk suasana lagi ialah meningkatnya ketersediaan WiFi gratis.

Risiko bahaya di balik WiFi cuma-cuma juga dipaparkan laman Inc pada 2 Agustus 2018. Disebutkan bahwa dapat saja penyerang siber sengaja mengenalkan WiFi nakal. Tujuannya apa lagi bila bukan menculik data individu atau data berharga lainnya.

Dalam tulisan berjudul 'Warning: These 7 Public Wi-Fi Risks Could Endanger Your Business' tersebut juga memperingatkan akses WiFi cuma-cuma yang disusupi malware atau disadap oleh pihak ketiga, dapat saja tak melulu mengambil alih data-data individu tapi pun perusahaan, sampai-sampai merugikan bisnis.
Di samping itu, pencopetan kata sandi dan nama pemakai pun termasuk dalam susunan risiko bahaya WiFi gratis.


0 komentar:

Posting Komentar