Sabtu, 01 Juni 2019

Teknologi Informasi | teknologi informasi dan literasi data


KELUARGA ialah tempat mengukir karakter anak. Sebelum bersinggungan dengan insan lainnya, seorang anak bakal bersinggungan dengan anggota family yang terdapat di rumahnya terlebih dahulu. Sehingga, perilaku dan peradaban anak di komunitas berikutnya (sekolah dan masyarakat) sangat diprovokasi oleh kelaziman yang dilangsungkan di rumah.

Sulitnya membangun kebiasaan literasi di sekolah dan masyarakat sebetulnya berpangkal dari rumah. Budaya literasi di lokasi tinggal merupakan hal utama yang memprovokasi kemajuan kebiasaan literasi di sekolah dan masyarakat. Idealnya, anak mendapat bekalkebiasaan literasi dari rumah. Selanjutnya, bekal itu dibawa ke sekolah dan masyarakat. Namun, fakta yang terjadi malah sebaliknya. Budaya literasi bermula dari sekolah. Selanjutnya, diinginkan berkembang di lokasi tinggal dan masyarakat. Padahal, sekolah bukan tempat edukasi kesatu dan sangat utama.


Teknologi Informasi - Budaya literasi identik dengan menyimak buku. Memiliki anak yang suka membaca kitab adalahidaman masing-masing orang tua. Namun, tidak tidak sedikit orang tua yang menjadikan kebiasaan membaca kitab sebagai program prioritas di rumah. Sebagian orang tua beranggapan, membaca kitab bukan keperluan mendasar. Akhirnya, kebiasaan membacakitab di lokasi tinggal menjadi sebuah kegiatan yang tidak lazim ditemui.

Budaya Membaca: Internet dan Buku

Kini, kebiasaan membaca kitab di lokasi tinggal tergeser oleh pekerjaan membacamelewati perangkat teknologi modern. Penghuni lokasi tinggal lebih nyaman menyimak dengan memanfaatkan paket data internet melewati gawai dan komputer daripada buku. Apalagi, family yang bermukim di wilayah pedalaman laksana tempat tinggal pengarang (Pedalaman Kalimantan Tengah).

Penduduk terpencil Kalimantan Tengah kendala menemukan kitab untuk dibaca. Perpustakaan umum dan toko kitab jauh dari lokasi tinggal mereka. Membutuhkan waktuselama enam jam perjalanan air untuk berangjangsana ke perpustakaan dan toko buku. Sementara, kitab koleksi di perpustakaan desa jumlahnya paling terbatas dan jarang diperbaharui.

Dalam pemantauan penulis, masyarakat di terpencil Kalimantan Tengah terlihat paling tekun menyimak dan menulis. Namun, mereka menyimak dan mencatat dalam obrolan whats ap dan linimasa facebook. Aktivitas itu dapat diperhatikan dalam kegiatan group whatsapp dan pertemanan facebook. Mereka dapat beraktivitas merasakan whats ap dan facebook dalam masa-masa yang relatif lama secara terus menerus.

Aktivitas era millennial tersebut dapat mengganti ritme kehidupan masyarakat di lingkungan penulis. Sebelumnya, orang tua yang beberapa besar bekerja sebagai petani,masing-masing pukul tujuh pagi telah berada di ladang guna bekerja. Setelah kehadiran smartphone, kegiatan tersebut tertunda selama tiga puluh menit atau lebih.

Hal yang sama terjadi pada anak umur sekolah. Aktivitas kesatu sesudah bangun tidurbukan lagi mandi dan bersiap diri guna sekolah. Mereka mengekor jejak orang tua, membuka smartphone dan menyimak obrolan yang terlewati sebab tidur malam.

Kehadiran smartphone memang bisa menjadi pilihan pengganti buku. Utamanya, untuk keluarga yang bermukim di pedalaman. Namun, menyimak langsung dari kitab tetap lebih utama. Kehadiran kitab tetap diperlukan sebagai sarana literasi. Tulisan dalam kitab mempunyai makna yang mendalam, terperinci, dan mencetuskan kontruksi pemahaman yang utuh.

BACA : Anak Muda, Teknologi, dan Perubahan

Membaca dengan kitab sangat bertolak belakang dengan membaca melewati internet. Seringkali, obrolan dalam whats ap, linimasa facebook, dan pencarian melalui software pencarian semacam google mengandung informasi yang dangkal. Informasi itu sangatriskan jika tidak diklarifikasi dengan sumber yang lain. Apalagi, pembacanya bersikap reaktif terhadap informasi internet yang belum pasti benar.

Realitas tersebut paling menakutkan untuk pemakai internet yang minim bekal literasi. Seringkali, bacaan yang ditawarkan internet menjauhkan pembacanya dari pengetahuan, kecerdasan, dan kebijaksanaan. Hal ini tampak dalam momentum politik (Pemilu serentak)sejumlah waktu yang lalu. Bacaan bernilai pembelahan masyarakat hadir dengan paling masif dalam susunan kalimat yang mengandung fitnah dan informasi yang tidak benar.

Rekayasa sosial “membaca kitab berbasis family di rumah” butuh disemarakkan. Segenap anggota family harus dikondisikan dan diberdayakan guna menjadikan pekerjaan membacakitab sebagai kegiatan yang terprogram, terencana, dan terukur. Kegiatan membaca kitab harus dirasakan sebagai keperluan mendasar. Kegiatan tersebut berfungsi sebagai lokomotif lahirnya peradaban literasi di sekolah dan masyarakat.

Membaca kitab harus dirasakan sebagai keperluan seluruh anggota keluarga, tidak saja kewajiban anak. Orang tua mesti pro-aktif menyuruh anak membaca kitab di rumah. Orang tua bisa menjadi inspirator dan fasilitator. Orang tua memberikan ilham dalam format keteladanan menyimak buku bareng anak. Di samping itu, orang tua pun memfasilitasi bahan bacaan guna anggota keluarganya di rumah.

Penduduk yang bermukim di desa wilayah pedalaman mesti bermusyawarah merundingkan ketersediaan bahan bacaan di lingkungan mereka. Keberadaan perpustakaan desa di wilayah pedalaman butuh mendapat perhatian. Masyarakat terpencil harus bergotong royongmeluangkan bahan bacaan guna mereka dan anak – anak mereka.

Membaca Buku di Lingkungan Keluarga

Aktivitas membaca kitab dalam lingkungan keluarga paling penting. Aktivitas semacam inidapat dimulai ketika kesatu kali bahtera lokasi tinggal tangga berlayar. Sepasang suami istri bisa menilai masa-masa dan lokasi untuk kegiatan membaca kitab bersama.

Waktu yang sangat tepat dan ideal ialah antara maghrib hingga dengan isya’ dansesudah sholat subuh. Mengingat, dua peluang itu umumnya adalahwaktu luang. Segalaurusan yang mengganggu kegiatan membaca mesti ditiadakan, contohnya mematikan TV dan Smarth phone di jam tersebut.

Setelah mempunyai anak balita, kegiatan tersebut mesti dikuatkan dengan pelbagai sentuhan kreasi dan inovasi. Misalnya, bacakan kitab cerita pada anak yang belum dapat membaca dengan merangkul dan mendekap mereka. Hal semacam ini merupakan tahapan potensial menanamkan pada diri anak kebiasaan membaca kitab sejak dini.

Ketika anak sudah dapat membaca, dampingi anak menyimak buku. Setelah itu, ajaklah mereka duduk bersama, sambil mengobrol ringan. Tanyakanlah sejumlah hal sambilberkelakar dan bertukar pikiran singkat tentang kitab yang telah dibaca anak. Hal inibakal memotivasi anak untuk menggali informasi baru dan mulai melirik kitab yang lain.

Penulis pernah menikmati pengalaman yang unik ketika berangjangsana ke lokasi tinggal tetangga. Tetangga membacakan kitab cerita untuk anaknya yang masih sekolah di PAUD dan ruang belajar satu sekolah dasar. Kegiatan membaca kitab cerita didesain seperti menyaksikan film. Orang tua menyerahkan remote TV untuk anak mereka. Remoteitu bukan dipakai untuk mengoperasikan TV, tetapi untuk menata ritme saat membacakitab cerita. Anak berhak untuk mengurangi tombol start, mengecilkan dan memperbanyak volume, dan menombol pause serta mengurangi tombol off. Ketika anak mengurangi tombol pengurangan volume suara, maka orang tua wajib meminimalisir volume suaranya dalam membaca kitab cerita. Tentunya, kegiatan ini dimulai dengan sejumlah kesepakatan yang positif untuk pekerjaan literasi anak.

BACA : Eksploitasi Tubuh Wanita di Era 4.0

Tujuan dari pekerjaan diatas ialah untuk menambah minat baca anak. Ratnasari (2016)menuliskan bahwa minat baca ialah suatu perhatian yang powerful dan mendalam disertai dengan perasaan senang terhadap pekerjaan membaca, sampai-sampai dapat menunjukkan seseorang untuk menyimak dengan kemauannya sendiri. Aspek minat baca meliputi hobi membaca, seberapa seringnya membaca, dan kesadaran akan guna membaca.

Setelah terbiasa menyimak dan tertanam minat menyimak buku, barulah anak ditunjukkan untuk memanfaatkan teknologi sebagai salahsatu sumber bacaan alternatif. Kegiatan membacamelewati teknologi mesti dengan pendampingan, pengawasan, dan arahan yang berkelanjutan dari orang tua.

Orang tua mesti bekerja keras guna mewujudkan kebiasaan literasi family di lokasi tinggal mereka. Minat baca tidak diperoleh melalui proses yang instan. Kebiasaan membaca kitab tidak diperoleh dalam satu hari, satu minggu, satu bulan, bahkanbarangkali dalam setahun sekalipun. Melainkan, memerlukan waktu yang panjang dengan usaha yang terus menerus.

Dari Rumah ke Sekolah dan Masyarakat

Budaya literasi yang telah terbangun di lokasi tinggal harus diperluas. Setiap family yang berhasil menerapkan kebiasaan literasi di rumahnya mesti menularkan virus positif literasi untuk lingkungan terdekatnya, contohnya rukun tetangga dan sekolah lokasi anak mereka belajar. Ketika rukun tetangga berhasil menerapkan kebiasaan literasi,tahapan selanjutnya ialah menularkan semarak lierasi ke lingkungan rukun warga, demikian seterusnya. Dukungan pemerintah dan figur masyarakat setempat sangat urgen dalam proses memperluas keberhasilan kebiasaan literasi. Akhirnya, buramnya prestasi Indonesia dalam urusan minat membaca kitab dapat terselesaikan dengan rangkaiantahapan membangun literasi diatas.

Perlu diketahui bahwa indeks tingkat menyimak orang Indonesia diangka 0,001. Artinya,melulu 1 orang dari 1000 warga yang menyediakan waktunya untuk menyimak buku. Fenomena ini membawa Indonesia menduduki peringkat ke 60 dari 61 negara yang dinilai dalam survey “bangsa melek literasi” oleh Connecticut State university tahun 2016. Bahkan, Indonesia kalah dengan Thailand (59) dan melulu menang atas Bostwana (61). ()

BACA : Huawei Nova 4, Smartphone Langka sebab Lubang Kamera

0 komentar:

Posting Komentar