Selasa, 18 Juni 2019

Teknologi Informasi | teknologi informasi mempengaruhi organisasi


perkembangan teknologi yang begitu pesat sudah mendorong terjadinya digitalisasi di seluruh aspek kehidupan, tergolong dunia kerja. Fleksibilitas yang ditawarkan dari kehadiran teknologi memberikan tidak sedikit kemudahan terhadap kegiatan orang dalam bekerja, terutama untuk generasi milenial.


Teknologi Informasi - Eric Mary, Country Manager Robert Walters Indonesia, perusahaan spesialis rekrutmen profesional berskala global, mengemukakan bagaimana era digital sudah mengubah teknik seorang pemimpin dalam mengelola organisasinya, tergolong mengelola dan mengintegrasikan generasi milenial dengan Baby Boomer dan Generasi X guna menghindari konflik antargenerasi di lokasi kerja.

Berdasarkan keterangan dari Eric, ada sejumlah kriteria baru yang mesti dipunyai oleh semua pemimpin di era ini guna dapat memimpin generasi yang bertolak belakang di lokasi kerja. Pertama, keterampilan komunikasi. Di era digital ini, pemimpin dituntut untuk dapat berkomunikasi tidak melulu secara jasmani dengan bertatap muka, namun pun piawai dalam berkomunikasi melalui sekian banyak  saluran berbasis teknologi yang bisa menunjang efektivitas dan efisiensi, contohnya melewati email, aplikasi, sampai chat messenger.

Kedua, berpikiran terbuka. Seiring dengan digitalisasi, pekerja (utamanya pekerja milenial), sekarang memiliki teknik yang bertolak belakang dalam bekerja. Dalam urusan ini seorang pemimpin mesti mempunyai pemikiran yang tersingkap untuk menyerahkan kesempatan untuk karyawannya dalam mengerjakan pekerjaannya dengan metode cocok dengan culture dan teknik kerjanya masing – masing, sekitar hasil yang dikatakan tetap cocok dengan standar yang telah diputuskan perusahaan tersebut.

Baca Juga : Jaringan 5G China Disebut Terbuka bikin Asing

Ketiga, tanggap terhadap perubahan. Eric menyatakan bahwa pemimpin di era ini mesti mempunyai kepekaan dan kecepatan dalam menyaksikan dan menilai suatu evolusi dan mengintegrasikan informasi itu menjadi keputusan dalam menjalankan perusahaannya. Pasalnya, pertumbuhan teknologi yang pesat ini sudah turut mengubah kelaziman dan perilaku pasar.

Keempat, berani memungut resiko. “Karena evolusi terjadi paling cepat di era ini, maka perusahaan mesti turut bertransformasi dalam rangka beradaptasi dengan evolusi tersebut. Bagi itu, ketika ini seorang pemimpin perusahaan mesti berani memungut risiko dengan bereksperimen mencoba teknik baru dan menilai secara komprehensif teknik mana yang sangat efektif guna diterapkan oleh perusahaan,” ungkap Eric siaran persnya, (7/6/2019).

Kepemimpinan yang baik dan ideal tumbuh tidak melulu menurut dari lama empiris kerja yang dipunyai seorang pemimpin, namun pun bagaimana seorang pemimpin bisa memanfaatkan masing-masing potensi di dalam dirinya, mempunyai perilaku dan sikap serta gaya kerja yang kompeten guna menghadapi era digital.


SEKOLAH ROBOT INDONESIA




Tapi, keempat kriteria ini tidak akan lumayan untuk membawa pemimpin ke tingkat yang lebih tinggi. Rajeev Peshawaria, CEO Iclif, melafalkan pentingnya semua pemimpin guna mengadaptasi cara kepemimpinan mereka di era digital ini. Rajeev mengingatkan seluruh pemimpin dari sekian banyak  industri bahwa kepemimpinan adalahseni memanfaatkan energi insan untuk menciptakan masa mendatang yang lebih baik. Bagi itu, Ia mendefinisikan kepemimpinan yang baik menjadi tiga bagian.

Pertama ialah mengoptimalkan diri sendiri. Berdasarkan keterangan dari Rajeev, hal fundamental yang mesti dipunyai seorang pemimpin ialah values atau prinsip moral yang sangat diandalkan  dan dijalani dalam kehidupan sehari – hari. Sebab values berikut yang bakal mendefinisikan siapa diri kita. Values ini merupakan kelompok nilai yang terus dipegang teguh dan diterapkan dalam kehidupan, sekalipun andai lingkungan selama tidak mendukung. Keteguhan seorang pemimpin dalam meyakini dan memegang teguh prinsip moralnya ini pada akhirnya bakal menjadi semangat yang kuat untuk seorang pemimpin guna menciptakan masa mendatang yang lebih baik.

Kedua, mendapat  dan menyerahkan energi pada pemimpin lainnya. Tahap berikutnya guna menjadi seorang pemimpin yang baik menurut keterangan dari Rajeev ialah seorang pemimpin mesti dapat memberdayakan dan merangsang antusiasme orang lain, sampai dapat mencetuskan pemimpin – pemimpin lainnya.

“Pemimpin di etape ini adalahseorang pemimpin yang bukan lagi memikirkan pertumbuhan dirinya sendiri, namun pun kepentingan dan pertumbuhan pemimpin beda yang sedang di bawah naungan kepemimpinannya, meskipun mesti rela berbagi otoritas dan tanggung jawab dengan mereka,” ujar Rajeev.

Baca Juga : Tingkatkan Daya Saing, BP Batam Integrasikan Kegiatan Logistik dan Komoditas

Ketiga, menyerahkan energi pada borongan organisasi. Pada etape ini, seorang pemimpin mesti secara proaktif dan berkelanjutan berupaya dalam menyusun Brains atau strategi perusahaan, mencakup visi dan tujuan yang dapat dicerna dan diterima oleh semua personil dalam perusahaan.

Rajeev menjelaskan, “Bones atau arsitektur organisasi mencakup mulai dari pemilihan talenta yang tepat di masing-masing posisinya, sampai pengelolaan sistem dan formalitas di dalam perusahaan, dan Nerves atau culture (budaya) di dalam organisasi atau perusahaan tersebut, mencakup mulai dari perumusan filosofi perusahaan, penentuan sistem apresiasi karyawan, sampai menetapkan nilai – nilai yang menjadi pedoman untuk seluruh personil di dalam organisasi tersebut.”

Keempat, mengelola konflik antargenerasi di lokasi kerja. Sebagaimana generasi milenial sekarang telah menginjak usia produktif, menggali cara supaya tenaga kerja yang berasal dari lintas generasi yang bertolak belakang untuk dapat berkolaborasi secara efektif ialah prioritas yang utama.

Maka dari itu, Ravjeev menekankan bahwa urusan yang perlu diacuhkan oleh semua pemimpin atau manajer untuk mengetahui apa yang bisa memotivasi pekerja dari generasi yang bertolak belakang ini, pun bagaimana teknik mereka berkomunikasi serta mengidentifikasi sumber konflik, ini adalahhal yang urgen untuk membuat tim yang powerful yang terdiri dari sekian banyak  generasi di dalamnya.

Teknologi yang bertolak belakang diterapkan di masing-masing era, tanpa diragukan lagi, ini menjadi hal utama dalam memprovokasi budaya, perilaku dan bahkan teknik kerja untuk masing-masing generasi. Generasi Millenial yang dikenal sebagai generasi yang melek bakal teknologi memandang teknologi sebagai akar dari konflik yang terjadi di lokasi kerja. 34% menuliskan bahwa generasi sebelumnya tidak mengetahui teknologi baru sampai hal ini menjadi penyebab dari konflik, tak berbeda dengan kebiasaan di lokasi kerja, dan jenjang karir.

Sebagaimana yang sudah diketahui, teknologi merupakan hal kunci dalam konflik antar generasi pada ketika bekerja - apakah sebab pemakaian sistem yang ketinggalan zaman atau sebab generasi sebelumnya yang kendala dalam beradaptasi dengan peradaban teknologi - Memastikan adanya pelatihan yang mencukupi untuk diserahkan kepada seluruh staf supaya mereka bisa memanfaatkan seluruh sistem secara optimal adalahstrategi utama yang bisa diterapkan untuk menangkal konflik yang dapat memprovokasi produktivitas.

Untuk membina ikatan di dalam suatu kumpulan kerja lintas generasi, perusahaan pun dapat mengawali dengan melakukan sekian banyak  kegiatan yang bertujuan untuk menambah kolaborasi dan komunikasi antar generasi. Melalui ini, perusahaan pun dapat mendorong lebih tidak jarang terjadinya interaksi antar anggota tim melewati proses brainstorming atau diskusi, laksana apa yang seringkali dilakukan pada program mentorship, dimana seringkali mereka dipasangkan dengan generasi pendahulunya sebagai manajer untuk dapat membimbing semua milenial atau generasi yang lebih muda

Baca Juga : LIPI Buka Peluang Kerja Sama Digitalisasi Karya Ilmiah

0 komentar:

Posting Komentar