Selasa, 18 Juni 2019

Teknologi Informasi | teknologi informasi mata kuliah


Hasil studi terbaru memperlihatkan lebih tidak sedikit pelajar Indonesia yang memakai teknologi di dalam kelas, dikomparasikan dengan pelajar di negara-negara lain, tergolong di negara-negara yang lebih maju.


Teknologi Informasi - Penelitian yang dilaksanakan oleh organisasi edukasi terkemuka Cambridge International - unsur dari Universitas Cambridge di Inggris - mengejar pelajar Indonesia memakai teknologi di ruang ruang belajar lebih dari tidak sedikit negara lain, sering mengungguli negara yang lebih maju.

Pelajar Indonesia ialah yang tertinggi secara global dalam pemakaian ruang komputer (40%).

Mereka pun menduduki peringkat kedua tertinggi di dunia dalam pemakaian komputer desktop (54%), sesudah Amerika Serikat.

Sebagian besar penduduk Indonesia 'khawatir dengan hoaks di internet'
Ekonomi digital mulai moncer, ini dia susunan unicorn dari Indonesia
Menjamurnya website berita: Bagaimana supaya media digital bisa bertahan?
Di samping itu, lebih dari dua pertiga murid Indonesia (67%) memakai ponsel pintar di kelas, dan bahkan lebih tidak sedikit menggunakannya untuk menggarap pekerjaan lokasi tinggal (81%).

Baca Juga : Belajar Coding dan Robotic Akan Semakin Menyenangkan di ROBOPARK INDONESIA

Penggunaan teknologi untuk pekerjaan belajar, disetujui oleh Nendya Zahirah, seorang pelajar di SMAN Depok, Jawa Barat.

Sejak satu tahun belakangan, siswa ruang belajar 12 ini getol memakai gawai untuk menggarap pekerjaan lokasi tinggal seperti untuk latihan matematika dan sejarah. Penggunaan gawai pun sering dipakai dalam pekerjaan belajar-mengajar di sekolah.

"Untuk ngerjain soal, jadi guna ulangan harian gunakan aplikasi," jelas Nendya.

Aplikasi yang dipakai pun bervariasi, mulai dari quipper, edmodo, dan Kahoot!
Nendya Zahirah, seorang pelajar di SMAN Depok menyatakan sering menggunakan software Kahoot! untuk menolong proses belajarnya.
Menilik salah satu software yang digunakan, Kahoot! ialah permainan berbasis platform pembelajaran cuma-cuma sebagai teknologi pendidikan. Diluncurkan pada 2013 kemudian di Norwegia, Kahoot! kini dimainkan lebih dari 50 juta orang di 180 negara.

Kahoot! dirancang guna pembelajaran sosial, dengan peserta didik berkumpul di depan layar di dalam ruang ruang belajar yang menjadi papan tulis interaktif, atau monitor komputer.

Banyak Kahoot! pun dimainkan memakai berbagai software lain laksana Skype, Appear.in dan Google Hangouts.

Nendya menyatakan lebih mudah mengetahui pelajaran yang diajarkan melewati pemakaian software ini.

SEKOLAH ROBOT INDONESIA


"Karena lebih cepat dicerna daripada manual. Soalnya kan guru-guru tentu ngejelasin dengan teknik yang lebih rumit," cetusnya.

Sementara itu, perusahaan pendidikan berbasis teknologi, Quipper meluangkan empat fitur guna sistem belajar online, Quipper video, Quipper video Masterclass, Quipper Campus dan Quipper School.

"Quipper School ialah platform learning management system guna guru dan siswa, jadi guru dapat memberikan tugas dan pun ujian secara online untuk siswa, dan ini telah diakses oleh 350.000 guru di semua Indonesia," jelas unsur humas Quipper, Ike Yuningsih.

Adapun ketika ini lima juta murid terdaftar memakai Quipper. Perusahaan ini pun telah berkolaborasi lebih dari 50 dinas edukasi di provonsi dan kebupaten, dan 48 perguruan tinggi di Indonesia.


Pelajar Indonesia pun menduduki peringkat kedua tertinggi di dunia dalam pemakaian komputer desktop (54%), sesudah Amerika Serikat.
Sementara itu, dari domestik ada HarukaEdu, portal edukasi di mana Anda bisa mengikuti sekian banyak  macam edukasi formal maupun informal secara online.

"Kita berkolaborasi dengan sekian banyak  universitas untuk mengadakan kuliah jarak jauh, dalam urusan ini caranya berupa blended learning," jelas Janeti Sugiharti, kepala unsur komunikasi di HarukaEdu.

Metode blended learning, Janet melanjutkan, ialah 50% pelajaran secara online dan 50% pertemuan kelas.

"Kami membuatkan learning management system (LMS) untuk mitra universitas kami sampai-sampai mahasiswa dapat belajar secara online," imbuhnya.

Setiap mahasiswa yang telah terdaftar sebagai mahasiswa blended learning bakal mendapatkan akun guna masuk ke LMS dimana melewati akses itu dia bisa mengakses pelajaran online yang diserahkan oleh dosen.

"Jadi dia tidak mesti datang ke kampus masing-masing hari, jadi ke kampusnya melulu untuk mengisi 50% mata kuliah yang diajarkan di kampus," kata Janet.

Di sejumlah universitas dan akademi kejuruan, internet memang sudah menjadi bagian urgen dari proses belajar-mengajar.

Baca Juga : Twitter Akui Platfomnya Dijadikan Sarang Konten Radikal

Masih tidak sedikit juga pelajar yang memakai modul manual dalam proses belajar, laksana sekolah-sekolah di daerah.
Contohnya, tugas dan ujian dikoleksi lewat email, tidak lagi berbentuk kertas. Mencari referensi juga kerap dari jurnal online atau e-book, bukan buku-buku fisik.

Dalam proses administrasi seperti pemungutan mata kuliah, penilaian dosen, sampai survei di kampus pun sudah terhubung ke sistem online.

Tak heran, dalam riset Cambridge International yang melibatkan 502 pelajar Indonesia bahwa lebih dari dua pertiganya (62%) memakai gawai di ruang belajar dan bahkan lebih tidak sedikit lagi dari mereka (81%) menggunakannya untuk menggarap pekerjaan rumah.

Kegemaran memakai teknologi ini tak mengejutkan untuk Indonesia, yang mempunyai jumlah pemakai internet menjangkau 143,26 juta pada tahun lalu, 49,52% di antaranya ialah mereka yang berusia 19 sampai 34 tahun.

Kepala Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi di Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan, Gatot Pramono, menuliskan dengan pertolongan teknologi, guru dan institusi bisa lebih tepat guna mengelola pelajaran dan lebih konsentrasi pada pembentukan karakter siswa, dan menginspirasi minat dan pemikiran kritis melewati ruang ruang belajar interaktif.

Pemerintah juga berpindah ke teknologi untuk menyerahkan lebih tidak sedikit orang akses ke pendidikan, melewati inisiatif laksana kursus online.

Sementara itu, Direktur Regional, Asia Tenggara & Pasifik Cambridge International, Ben Schmidt menjelaskan penerapan teknologi dalam proses belajar mengisyaratkan kesempatan untuk inovasi dan kreativitas dalam praktik pembelajaran.

"Ketika mahasiswa Indonesia melanjutkan perjalanan mereka sebagai pemikir, inovator, dan pemimpin masa depan, integrasi teknologi yang lebih untuk menyokong pembelajaran mereka akan menolong mempersiapkan mereka untuk berlomba di pasar global yang berkembang" ujar Ben.


0 komentar:

Posting Komentar