Selasa, 18 Juni 2019

Teknologi Informasi | teknologi informasi makalah


Saya terkenang saat menggarap tugas sewaktu sekolah, mesti disertai dengan lampiran berupa tangkapan layar atau screenshot guna menjadi di antara penguat laporan di makalah yang sedang disusun. Cukup dengan mengurangi tombol kombinasi alt+print screen dilanjutkan ctrl+v dan tidak tak sempat membuka file pada microsoft office, lampiran berupa screenshot sudah berlalu dibuat.


Teknologi Informasi - Hal terbilang repot tersebut dulu mesti saya lakukan sebab fitur dalam handphone belum secanggih ketika ini, jadi bila hendak screenshot, di antara pilihannya ialah dengan membuka file pada komputer dapat juga didapat dari internet, kemudian selanjutnya dapat langsung kirim via email, disimpan, atau langsung print. Semuanya tergantung kebutuhan.

Sekarang, nyaris semua handphone keluaran teranyar dapat dijamin mempunyai fitur screenshot untuk sekian banyak  kebutuhan dan menjadi kemudahan untuk para pemakai—khususnya andai mereka malas menulis atau menggali lagi file (dapat berupa gambar, dokumen, kutipan, dan lainnya) yang susah ditemukan. Dengan demikian, penelusuran akan lebih mudah sebab file terpusat di satu tempat pada galeri: folder screenshot.

Namun, sebab kemudahan tersebut ketika ini screenshot telah menjadi kebiasaan tidak sedikit orang. Mungkin lambat laun bakal menjadi gaya hidup. Sedikit-sedikit screenshot hingga galeri potret menjadi penuh sebab kebiasaan tersebut. Bahkan andai sudah tidak sedikit pun, belum pasti hasil dari screenshot bakal terpakai.

Baca Juga : Mata Uang Digital Facebook Dapat Banyak Suntikan Dana

Mulai dari resep masakan, potret artis, kutipan dari semua tokoh ternama, thread di linimasa Twitter, tab likes di Twitter, bukti pembicaraan di chat dengan mantan, chat yang dirasakan lucu sebenarnya tidak untuk banyak orang, hingga dengan update kedudukan atau cuitan kontroversi, dan masih tidak sedikit lagi. Semuanya di screenshot dengan tidak sedikit tujuan.

Saya biasanya screenshot laman web atau resep masakan sebab malas menulis dan menggali ulang alamat web yang dituju. Di twitter, biasanya saya temui seseorang mengcapture tab likes orang beda yang berisikan konten pornografi guna menyerang balik orang tersebut andai sedang twitwar (adu debat di Twitter). Kemudian ini menjadi pelajaran untuk saya pribadi, guna tidak sembarang mengurangi fitur like di Twitter. hehe. Ayo, segera periksa tab likes setiap sekarang!

Saya seringkali diciptakan bingung oleh mereka yang senang sekali screenshot dan mengunggah kembali pembicaraan yang dilaksanakan di chat, diperbanyak tanpa menyamarkan foto, nomor, pun nama. Bukan kah tersebut privasi? Lantas mengapa disebar secara cuma-cuma? Sudahkah mendapat persetujuan dari yang bersangkutan? Jika lawan bicara tidak cukup berkenan, mesti berapa tidak sedikit lagi permasalahan yang sehubungan dengan UU ITE dan mesti diselesaikan? Sekadar menegaskan, dengan atau tanpa disadari, tidak seluruh orang hendak mengetahui isi pembicaraan seseorang dalam sebuah obrolan.

Baca Juga: Microsoft Bakal Rilis Laptop Layar Ganda September 2019

SEKOLAH ROBOT INDONESIA


Lagi pula, apa faedahnya, sih, pembicaraan yang banyak sekali tidak seberapa tersebut discreenshot lantas diposting ulang? Biar sekadar notifikasi di media sosial ramai? Jika benar demikian, usahakanlah pergi ke mall kemudian ke area eksklusif penjualan handphone, niscaya notifikasi nyata bakal segera diterima karena tidak sedikit penjaga counter yang menawarkan produk handphone terbaru, “Silakan, Kak—mampir. Lihat dan tanya-tanya aja dulu, tidak sedikit handphone terbaru~”.

Kalau pun guna konsumsi pribadi, kelaziman screenshot ini seringkali menciptakan memori terpakai lumayan banyak, terutama saya yang ketika ini masih memakai handphone dengan kenangan internal sebesar 16 giga byte. Dengan pemakaian tidak sedikit aplikasi, rasanya lumayan berat merelakan kenangan tersisa melulu untuk file screenshot. Akhirnya, bersih-bersih file mesti teratur dilakukan.

Tak jarang, kelaziman screenshot ini pun untuk mengantisipasi lupa—sebagai pengganti catatan supaya lebih ringkas dalam satu file. Walau sebenarnya saya menyadari, urusan ini menjadi sesuatu yang terus diulang dan bakal menjadi tidak bermanfaat saat anda simpan lalu andai tidak bermanfaat langsung dihapus dari galeri—hanya sebab kebiasaan dan begitu seterusnya.

Mau bagaimana pun, fitur screenshot diciptakan untuk menyerahkan kemudahan untuk pemakai. Hanya saja lantas dalam prosesnya seringkali tidak sedikit pemakai yang tidak arif dalam menggunakannya, lagipula jika hendak menjatuhkan citra orang lain. Kecuali guna menjadi bukti pemeriksaan melewati proses pihak yang berwenang, tentu urusan itu lain soal.

Baca Juga: Nonton Game of Thrones Untuk Orang Indonesia yang Mabuk Pemilu
Sudahlah, Maemunah. Tidak butuh repot-repot screenshot melulu untuk memberi santap egomu dalam mengumbar seluruh informasi yang ada. Mungkin dirimu melulu kaget dengan kecanggihan teknologi terkini, hingga lupa akan kepribadian yang butuh terus dibenahi supaya menjadi insan yang baik budi serta cerdas dalam berkomunikasi.

Baca Juga : NASA dan NOAA Peringatkan Frekuensi 5G Bisa Ganggu Ramalan Cuaca

0 komentar:

Posting Komentar