Sabtu, 15 Juni 2019

Teknologi Informasi | teknologi informasi jaman sekarang


Pro kontra wacana Majelis Ulama Indonesia (MUI) menciptakan fatwa haram gim PlayerUnknown's BatleGrounds (PUBG) terus bergulir. MUI berpikir wacana fatwa haram dirangsang teror penembakan dua masjid di Christchurch, Selandia Baru yang dinamakan terinspirasi gim baku tembak PUBG.

Sejauh ini, MUI turun tangan dengan mengerjakan kajian bareng sejumlah lembaga terjait untuk menyimpulkan fatwa terhadap gim besutan Brendan Greene tersebut.


Teknologi Informasi - Head Division of Online Safety SAFEnet Boaz Simanjuntak menilai bahwabenang merah yang mengatakan andai gim baku tembak dapat memicu aksi agresif pada pemain dapat diantisipasi. Salah satu upaya pencegahannya yaitu dengan melibatkan family dalam memberi pemahaman untuk anaksupaya tidak terkena perilaku menyimpan yang dapat berujung pada tindak kekerasan.
"Kalau saya melihat ialah komunikasi antara orang tua dan anak, kejujuran komunikasi tersebut harus disusun dari kecil," kata Boaz ketika dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (27/3).
Lihat juga:Netizen Bikin Petisi Tolak Fatwa Haram Gim PUBG
Boaz menuliskan orang tua mesti membina komunikasi yang baik. Selaininginkan didengar oleh anak, orang tua pun harus mau memperhatikan anaknya.

Lebih lanjut, ia menambahkan andai orang tua pun harus pintar menggambarkan akibat ketika anak hendak melakukan sesuatu.
"Orang tua pun harus pintar mencerminkan bahwa 'kalau anda melakukan kekerasan, orang beda yang bakal sakit' misalnya andai orang tersebut meninggal, keluarganya sedih," jelasnya.

Komunitas dan batasan umur
Di samping peran orang tua, Boaz menuliskan keterlibatan komunitas terlatih yang peduli ranah daring pun harus diberdayakan. Keberadaan komunitas dapat memberikan pendidikan dan penyuluhan akibat baik dan buruk gim daring.
"Bisa pun meminta pertolongan komunitas terlatih misalnya. Kalau di pemerintah kan terdapat Siberkreasi, lantas di luar tersebut yang masihterdapat jaringan dengan teman-teman di Kominfo laksana ICT Watch," ucapnya.
Boaz yang pun periset terorisme di Kreasi Prasasti Perdamaian menyatakan setujuu dengan ulasan antara MUI dan lembaga bersangkutan tentang pembatasan umur anak guna bermain gim.
"Yang kesatu soal batasan usia, butuh ketat saya setuju. Dalam konteks saya sebagai orang SAFEnet dan sebagai peneliti terorisme saya setuju," ucapnya.


Lihat juga: Belanja Digital Perbankan Masih Rendah

Namun di satu sisi, Boaz menilai pembatasan jam bermain gim online serta dampaknya sudah masuk ke dalam ranah privasi keluarga.
"Pengaturan jam main game online contohnya soal masa-masa dan akibat itu diurus private. Diurus di distrik keluarga atau juga dapat memintapertolongan komunitas terlatih," imbuhnya.
Berdasarkan keterangan dari Boaz, fatwa MUI tidak mempunyai hukum yang memngikat laiknya undang-undang. Namun, ia menghargai sikap MUI yangmengerjakan pembahasan bareng lembaga bersangkutan. Lebih jauh, ia mengkritisi tahapan MUi yang akan menerbitkan fatwa berhubungan gim PUB. Menurutnya, MUI lumayan memberi masukan dan desakan terhadapakibat yang mungkin dimunculkan gim daring yang beredar ketika ini.

0 komentar:

Posting Komentar