Selasa, 11 Juni 2019

Teknologi Informasi | teknologi informasi e business


Facebook pulang tersandung isu privasi. Setelah skandal Cambridge Analytica tahun 2018 lalu, belakangan Facebook ketahuan sudah memata-matai kegiatan sejumlah pemakai melewati ponselnya dengan iming-iming bayaran sebanyak uang. Jejaring sosial besutan Mark Zuckerberg ini diketahui memberi imbalan pada semua pemakai berusia 13 hingga 35 tahun sebesar 20 dollar AS (Rp 282.000) per bulan. Sebagai gantinya, pemakai itu harus rela kegiatan dan data pribadinya diperhatikan oleh Facebook. Data yang dipungut berupa kegiatan pencarian di website, informasi lokasi, pesan individu (DM) di software media sosial, dan sejumlah data lainnya. Baca juga: 20 Skandal Facebook Sepanjang Tahun 2018 Aktivitas menunaikan pemakai guna memata-matai kegiatan dan data individu mereka sudah dilaksanakan oleh Facebook paling tidak semenjak tahun 2016 lalu. Facebook memungut data semua pemakai tersebut melewati sebuah software VPN di guna iOS dan Android yang mempunyai nama "Facebook Research".

Ilustrasi Facebook

Teknologi Informasi - Para peserta yang mau informasi pribadinya ditukar dengan uang, diwajibkan memasang software ini di ponselnya. Bahkan menurut keterangan dari spesialis ketenteraman Guardian Mobile Firewall, Will Strafach, semua pemakai bahkan diminta untuk menciptakan screenshot halaman yang mengindikasikan apa saja yang mereka pesan dariwebsite e-commerce Amazon. Mengintip kunjungan Dirangkum KompasTekno dari TechCrunch, Rabu (30/1/2019), software Facebook Research bekerja dengan teknik mengintip kunjungan jaringan lewat root access. Dengan demikian, Facebook pun dapat memantau dan menganalisa kegiatan pemakaidi internet lewat ponselnya. Mekanisme software Facebook Research iniserupa dengan software bernama Onavo Protect -juga kepunyaan Facebook- yang telah ditutup dari App Store oleh Apple. Baca juga: Ingkar Janji Mark Zuckerberg Kepada WhatsApp, Instagram, dan Messenger Onavo Protectdirasakan melanggar sejumlah aturan privasi, kemudian ditarik keluar oleh Facebook dari App Store

BACA : Huawei Ungkap Pembangunan Ekosistem Wujud Transformasi Digital di Indonesia

Agustus 2018 lalu sesudah mendapat peringatan dari Apple. Nah, software Facebook Research yang didapatkan dari sumber di luar App Store (sideload) disinyalir adalahpengganti Onavo Protect sebagai sarana Facebook mendapat  data pemakai dariperlengkapan iOS. Aplikasi Onavo Protect masih terdapat di tokosoftware Android, Google Play Store, dan sudah didownload sebanyak 10 juta kali. Tanggapan Facebook Facebook sendiri beralasan bahwa perbuatan di atas dilaksanakan sebagai unsur dari riset untuk mengidentifikasi hal-hal tertentu bersangkutan kelaziman pemakai. Tujuannya dinamakan demi menciptakan kinerja Facebook menjadi lebih baik. "Karena riset ini bertujuan menolong Facebook mengetahui bagaimana orang memakai perangkat seluler mereka," ujar seorang juru bicara Facebook. Baca juga: Melihat Kesungguhan Facebook Perangi Hoaks "Kami sudah memberi informasi luas mengenai jenis data yang kami kumpulkan dan bagaimana mereka bisa berpartisipasi. Kami tidak menyerahkan informasi ini dengan orang beda dan peserta bisa berhenti berpartisipasi kapan saja," lanjutnya. Pasca publikasi laporan berhubungan oleh TechCrunch, Facebook mengumumkan akan menghentikan software Facebook Research versi iOS.

BACA JUGA : Mengenal Revolusi Industri dari 1.0 sampai 4.0

0 komentar:

Posting Komentar