Jumat, 28 Juni 2019

Teknnologi Informasi | teknologi informasi skripsi



Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) mempunyai peranan urgen dalam per­ekonomian nasional dan su­dah terbukti ketika terjadi krisis ekonomi 1997-1998. Di samping itu, UMKM berkontribusi dalam perkembangan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja. Se­banyak 62,92 juta unit usaha (99,92 persen) dari total unit usaha di Indonesia adalahUMKM. Mereka berkontribusi terhadap PDB menjangkau 60 persen. UMKM pun menyerap tenaga kerja 116,73 juta (97,02 persen) dari total angkatan kerja.


teknologi informasi skripsi

Teknologi Informasi - Presiden Joko Widodo pernah menuliskan bahwa teknologi dan ekonomi digi­tal ialah keniscayaan di era digitalisasi. Pemerintah mesti meyakinkan bahwa era digital dapat membawa manfaat untuk rakyat. Hal ini secara khusus untuk kalangan UMKM. Caranya, memudahkan akses terhadap teknologi dan ekonomi digital.

Sayang, masih tidak sedikit UMKM belum memanfaat­kan perlengkapan digital guna menunjang ataupun mengem­bangkan bisnis. Padahal de­ngan digitalisasi, UMKM bisa men-scale-up usahanya. Keter­libatan UMKM secara digital diduga dapat meningkat­kan perkembangan ekonomi se­besar 2 persen.

Bahkan, diprediksi dapat mempunyai pertumbuhan pen­dapatan antara 23-80 persen andai mahir dalam memanfat­kan teknologi digital. Memang butuh diakui bareng bahwa terdapat sejumlah tantangan umum dalam digitalisasi UMKM yang butuh dicermati.


Di antaranya, keterbatasan pengetahuan mengenai teknolo­gi informasi (TI). Berdasarkan survei Deloitte tahun 2015 ter­hadap 400 UMKM Indonesia, mengindikasikan bahwa 36 per­sen masih offline atau belum terdigitalisasi. Sementara itu, 37 persen lainnya melulu me­miliki keterampilan online yang sangat fundamental seperti kom­puter atau akses broadband.

Hanya 18 persen yang me­miliki keterampilan online menengah (mengguna­kan web atau medsos) dan tidak cukup dari 9 per­sen bisnis online lanjut­an dengan keterampilan e-commerce.

Mirisnya lagi, data McKinsey Global Institute justeru me­nunjukkan, melulu 5 persen UMKM yang sudah dapat bertransaksi online. Sedangkan tahun 2019 laksana yang disam­paikan Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi ketika berkata tentang revo­lusi industri 4.0, baru 5 persen UMKM telah go digital sam­pai akhir tahun lalu.

Kemudian, pelatihan TI tidak terstruktur dan ber­kelanjutan. UMKM terus merasakan peningkatan sebesar 2 persen masing-masing tahun dari 61.651.177 berkembang menjadi 62.992.617 (data perkem­bangan UMKM dan Usaha Besar periode 2016-2017). Lantas, apakah pemerintah dapat mengadakan pelatih­an TI untuk semua UMKM tersebut?

UMKM digerakkan dengan motif utama profitabilitas dan penjualan stabil dalam jangka panjang. Saat membuka dan menjalankan UMKM ten­tunya menciptakan target segera mungkin menda­pat penjualan dan menguntungkan. Kesibukan berikut yang menyebab­kan UMKM susah mendapat in­formasi.

Tertinggal

Menyedihkan saat dalam sekian banyak  penelitian menunjuk­kan, UMKM jauh terbelakang dari negara ASEAN lainnya laksana Malaysia, Singapura, Thailand, dalam pengaksesan dan pe­manfaatan internet. Platform teknologi yang tidak cukup tepat pada portal informasi untuk UMKM ditengarai menjadi pe­nyebab tidak tersampaikannya informasi yang tepat sasaran guna UMKM.

Hal ini diperbanyak lagi de­ngan keterampilan literasi digi­tal yang masih sangat tidak cukup menjadi penghambat akses UMKM terhadap informasi digital. Jangankan guna men­gaksesnya, memakai dan menggali informasi di dunia maya saja masih merasakan kesulitan. Ditambah lagi, ke­hadiran pemerintah dalam mengembangkan UMKM menghadapi tidak sedikit keterba­tasan perkiraan dan sumber daya manusia.

Layanan UMKM naik ruang belajar yang bisa diakses melewati situs umkmnaikkelas.com merupakan misal portal ko­laborasi antarswasta dalam mengembangkan UMKM yang penuh layanan dan informasi. Sedangkan UKMC FEB UI di ukmcenter.org adalahportal informasi UMKM yang dikembangkan institusi pendi­dikan.

Pemerintahan umumnya membina portal informasi UMKM di bawah naungan Di­nas Koperasi & Usaha Kecil. Sifatnya sebagai direktori. Pada lazimnya portal-por­tal ini paling responsif dan bisa dibaca dengan baik melewati smartphone.

Akan tetapi, dari seluruh portal itu masih butuh di­tambahkan versi portal infor­masi berbasis Apps baik IOS ataupun Android untuk UMKM yang mempunyai mobilitas tinggi. Kolaborasi adalahkunci membina portal informasi untuk UMKM. Mereka butuh bersinergi dengan seluruh stake holders baik swasta (pelaku industri, UMKM, ko­munitas dll) maupun institusi pendidikan.

Salah satu solusi simpel dan logis dengan melibatkan dosen-dosen dalam penelitian. Mereka dapat menjadi mentor da­lam pelatihan guna UMKM. Mahasiswa pun dapat dilibatkan, terutama dalam pen­dataan, survei, tugas akhir atau skripsi. Mereka ditunjukkan ke tema-tema yang ber­kaitan dengan pem­buatan dan pemanfa­atan TI.

Terakhir, pemerin­tah sebagai legalisa­tor dan fasilitator. De­ngan begitu, diharapkan tidak sedikit UMKM yang mendapat nilai tambah dari digitalisasi guna menjadi­kan mereka go digital dan naik kelas.




0 komentar:

Posting Komentar