Rabu, 08 Mei 2019

Teknologi Informasi | teknologi informasi adalah



Teknologi Informasi  - Kemajuan teknologi informasi dan ekonomi digital ternyata pun mendorong sisi gelap internet, media sosial, dan lompatan teknologi sudah menjadi semakin jelas dalamsejumlah tahun terakhir. Dari sisi ekonomi digital, apa yang baik guna bisnis belumpasti baik untuk pribadi atau masyarakat. Lompatan teknologi informasi malah memudahkan orang guna memanipulasi opini, membuang kebencian, dan menghasut guna tindak kekerasan. Secara naif tidak sedikit orang pernah menuliskan akses ke World Wide Web bakal secara tentu mendemokratisasi informasi; hari ini, malah menimbulkan kekuatiran urusan ini malah dapat membawa damapk buruk. Apakah yang dapatdilaksanakan untuk menyokong teknologi yang lebih manusiawi, etis, dan efektif? Persoalan nilai kemanusiaan dalam teknologi Dilansir dari World Economic Forum, salah satu teknik penting menanggulangi masalah ini ialah dengan mereformasi edukasi STEM ( sains, teknologi, teknik, dan matematika).
      Tetapi masih di anggap perlu guna memperluas jangkauan pendidikan STEM, guna meyakinkan bahwa murid belajar guna mengevaluasi dan menanggapi konsekuensi sosial, ekonomi, dan politik darikegiatan mereka. Dibutuhkan pengembangan kurikulum yang sama sekali baru supaya generasi teknologi, insinyur, ilmuwan, dan matematikawan generasi mendatang dapat mempertimbangkan efek dari perbuatan atau hasil inovasi mereka terhadap masyarakat. Tanpa kerangka laksana itu, akan hadir kesenjangan besar antara inovasi dan realitas nilai-nilai kemanusiaan. Memasukan etika dalam edukasi STEM Untungnya, embrio revolusiedukasi ini telah tumbuh. Beberapa universitas menambahkan ruang belajar etika ke kurikulum STEM.

Baca Juga : Telkomsel Rilis Solusi IoT Manajemen BBM

     Universitas Stanford, di antara referensi edukasi STEM ke industri teknologi, baru-baru ini menambahkan subyek latihan dengan topik laksana " Etika, Kebijakan Publik, dan Perubahan Teknologi" dan "Komputer, Etika, dan Kebijakan Publik." Stanford pun baru-baru ini mengenalkan Human-Centered AI Initiative , yang mengakui bahwa "perkembangan AI (kecerdasan buatan) mesti dipasangkan dengan studi mengenai dampaknya pada masyarakat. Casey Fiesler dari University of Colorado, tengah mengumpulkanpelbagai silabus yang berfokus pada etika teknologi. Saat ini sudah terkumpul database online yang telah mengandung lebih dari 200 silabus dari universitas di semua dunia. Namun melulu seperempat dari kursus-kursus itu yang diajarkan fakultas berhubungan sains dan ilmu komputer. Sisanya diajarkan di departemen laksana hukum, filsafat, dan komunikasi, yang berarti belum dicocokkan dengan tantangan bersangkutan dengan STEM.

Baca Juga : Ponsel Berfitur GPS Cegah Kecelakaan Akibat Swafoto

     Integrasi ilmu humaniora Hal berikut yang menjadi dasar pendirian Responsible CS Challenge yang dikenalkan bulan kemudian oleh Omidyar Network, Schmidt Futures, Craig Newmark Philanthropies, dan Mozilla. Lembaga ini dalam dua tahun ke depan bakal mendorong profesor ilmu komputer di Amerika Serikat guna mengintegrasikan etika ke dalam kurikulum sarjana mereka sampai-sampai siswa STEM dapat mendapat  pemahaman yang lebih dalam dan komplek mengenai bagaimana teknologi memprovokasi umat manusia. Ini ialah langkah di mana masih tidak sedikit yang mesti dilakukan. Di samping etika, eksplorasiserupa akan dibutuhkan dalam sekian banyak  disiplin ilmu laksana ekonomi, psikologi, dan tidak sedikit lagi yang dinamakan humaniora. Memperluas edukasi STEMguna memasukkan pertimbangan humaniora lebih luas seperti tersebut akan bermanfaat sebagai landasan strategi jangka panjang lebih komprehensif guna meyakinkan bahwa teknologi melayani masyarakat dengan teknik positif. Strategi tersebut juga mestimemasukkan perubahan, supaya para alumni STEM dapat mempersiapkan dan mengatasiakibat pekerjaan atau hasil inovasi terhadap masyarakat.

0 komentar:

Posting Komentar