Sabtu, 01 Juni 2019

Teknologi Informasi | teknologi informasi dan contohnya

Teknologi Informasi | Anak Muda, Teknologi, dan Perubahan


Akhirnya netizen kembali dapat menggunakan internet secara lancar. Sebelumnya Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) memberi batas akses media sosial guna pemakai internet di Indonesia --mengirim dan menerima potret dan video lewat WhatsApp dan Facebook. Di samping memunculkan kerugian ratusan miliar untuk pelaku perniagaan daring, segmen beda yang paling membangkang dan terpapar imbas menilik mereka ialah kelompok pemakai terbesar di Tanah Air yaitu anak muda.

Relasi antara kekuasaan, teknologi, dan evolusi telah menanam anak-anak muda tumbuh dan berkembang di era ketidakpastian. Meningkatnya kecenderungan guna mengunggah tulisan, foto, dan video di media sosialpun tak terlepas dari fakta bahwa kuasa media kian membatasi kemudian lintas polemik guna meredam pikiran-pikiran kritis.


Teknologi Informasi - Kebebasan yang dijanjikan internet ialah bahwa siapapun dapat mempunyai akses langsung ke sumber informasi yang didapatkan tanpa mesti bergantung pada penjaga gerbang informasi, yakni empunya atau editor media. Namun internet memiliki akibat yang kompleks. Di satu sisi,pemakaian internet menjadikan netizen dapat membuat berita. Tetapi di sisi beda ia pun menyisakan kekurangan serius; membuka jalan untuk "kekuatan hitam" guna mengarang semua narasi berita, seperti hoaks. Iniialah sesuatu yang tidak dicerna ketika orang mengenalkan internet dulu.

Kaum milenial sebagai pemakai internet teraktif butuh memilikiketerampilan literasi supaya mengerti mengenai tren kontemporer dan dampaknya. Ini membutuhkan upaya edukasi yang lebih serius daripadamelulu menjelajahi web. Mereka mesti bisa mengenali apa dan bagaimana informasi yang kredibel dan yang termasuk sampah dan hoaks. Kegagalan menilai keabsahan sumber dan ketidakmampuan mengejar game retoris yang dimainkan dalam teks akan memanipulasi seseorang. Di sinilah orang acapkali dan gampang tersesat.


Kita mesti mengetahui sumber informasi. Kita perlu mengerjakan upayatambahan untuk memverifikasi kenyataan dan mengungkap retorika yang digunakan. Untuk yang pernah merasakan suasana edukasi di perguruan tinggi, maka tradisi mencatat akademis dapat menjadi modal guna memperkuat watak literasi. Untuk mahasiswa barangkali ini terasa membosankan, namun apa yang dipelajari tentang daftar kaki atau kutipan yang terpercaya merupakan kemampuan yang menciptakan seseorang dapat membedakan antara barisan fakta dan segunung berita palsu.

Suka tidak suka, teknologi mendatangkan akibat luar biasa terhadap perilaku sosial. Telepon pintar (smartphone) sudah mengubah teknik orang berinteraksi. Seringkali kita menonton pasangan berkencan dan tak satujuga dari mereka menyaksikan yang lain. Mereka duduk di kafe romantis sambil menatap ponsel masing-masing. Gambaran umum itu menyibakkan bahwa teknologi menciptakan orang bukan lagi berinteraksi dengan teknik tatap muka yang secara tradisional dipunyai manusia. Teknologi memaksa anda mengiyakan kenyataan bahwa perubahan ialah keniscayaan.

Dalam konteks politik mahasiswa atau pelajar sekolah menengah dapatmenyokong politisi tertentu dan mengekor perkembangan politik melewati media. Tapi yang lebih penting ialah mendorong anak-anak muda ini berkontribusi guna menciptakan kebiasaan politik yang lebih tersingkap dan bertanggung jawab. Di Indonesia mahasiswa sudah menjadi ujung tombak terkemuka dalam tidak sedikit gerakan reformasi dan demokratisasi. Proses politik menjadi tidak terkendali sebab mahasiswa secara eksklusif atau anak muda secara mum tidak mempunyai penilaian terbaik tentang kekuatan politik mana yang mesti didukung.

Anak-anak muda yang mempunyai kesadaran politik tidak saja mempengaruhi tumbuhnya organisasi politik yang efektif, tapi pun berdampak untuk perubahan yang lebih besar. Karenanya, kaum muda seharusnya tidak melulu mengubur kepala mereka di pasir dan secara membabi buta mengekor tuntutan karier yang sempit. Mereka butuh menyadari pentingnya mengawal diriguna tetap tercebur dan menjadi bagian urgen dari proses politik yang lebih besar.

Sayangnya, kemelekan politik kawula muda yang ditandai oleh motivasi aktivis, khususnya di kalangan mahasiswa, kontradiktif di tengah adanya desakan yang paling besar dari orang ua, masyarakat, bahkan pemerintahsupaya anak-anak muda memungut jurusan atau fakultas yang berorientasikan hal-hal praktis-pragmatis (bisnis, teknik, komunikasi, komputer, atau IT) untuk mendapatkan kegiatan lebih baik. Pilihan terhadap jurusan sosial dan humaniora dirasakan tidak menjanjikan kehidupan yang lebih baik di masa depan. Gerakan meninggalkan humaniora hari ini sungguh ironisnya dibandingkan, misalnya, dengan era 1960-an. Semasa tersebut standar kehidupan jauh lebih rendah, tetapi mahasiswa lebih tidak sedikit yang belajar sastra dan filsafat.


Persoalan ini sebetulnya mengindikasikan pergeseran pasar tenaga kerja. Seiring peradaban teknologi, komputer, dan otomatisasi menggantikan tenaga kerja berketerampilan rendah dan menata kembali pasar tenaga kerja. Namun belakangan ini otomatisasi menggantikan pekerjaan ruang belajar menengah yang dulu lumayan stabil. Bahkan pengacara dan dokterbukan lagi dari ancaman otomatisasi. Tekanan dari otomatisasi berarti bahwa seseorang dengan kemampuan STEM (science, technology, engineering, and mathematics) dirasakan lebih bernilai.

Kurangnya lapangan kegiatan secara umum dan bertambahnya permintaan terhadap kemampuan khusus di bidang-bidang tertentu sudah mengguncang sistem edukasi di Tanah Air. Anak-anak muda hanya beranggapan untuk mendapatkan kegiatan dengan cepat. Mereka memandang menikmati masa-masa luang untuk menyimak sastra atau berdebat isu-isu sosial-politik dan hukum tidak urgen lagi.

Tren dan konsentrasi pada STEM ini memang tampak tidak banyak berlebihan. Bagaimanapun, tekanan tersebut mendorong orang menjauhi ilmu-ilmu kebiasaan (humaniora). Fakultas humaniora memang sudah berupaya untuk menanggulangi situasi tersebut supaya keberadaannya tetap relevan dalam wacana global dan tuntutan ekonomi. Sebagai contoh, semua mahasiswa didorong untuk mengetahui humaniora dalam koridor ideologi kebenaran politik yang menuntut fokus pada studi gender dan studi etnis. Bias politik mulai dijauhi dalam pengajaran dan riset sehingga interpretasi sastra dan filsafat bermanfaat untuk kebutuhan praktis mahasiswa.

Kepedulian terhadap politik bukan bermakna anak-anak muda mesti berduyun-duyun masuk parpol. Satu kebenaran universal mengenai politik ialah bahwa orang akan terlihat tidak peduli hingga mereka terinspirasi dan mempunyai komitmen yang serius pada politik. Protes dan demonstrasi mahasiswa di Korea Selatan pada 2016 yang berujung pada impeachment Presiden Park Geun-Hye memperlihatkan bahwa kekuatan politik anak muda adalahkekuatan transformatif kepemimpinan nasional dan perlawanan terhadap korupsi.

0 komentar:

Posting Komentar