Rabu, 29 Mei 2019

Teknologi Informasi | teknologi informasi contoh


Bicara tentang geopolitik, tidak sedikit sekali urusan yang menjadi perhatian masing-masing kalangan terutama untuk pihak pengambilkepandaian luar negeri. Berbagai pilihan dari yang rasional sampai tidak rasional laksana "pemakaian instrumen kekerasan" (misal: perang).

Penggunaan kekerasan terkadang menjadi pilihan sangat rasional untuk negara maupun aktor beda untuk menjangkau kepentingannya. Tujuan dasar dari pemakaian kekerasan ialah untuk memaksakan evolusi nilai-nilai serta kegiatan yang terdapat di dalam sebuah negara. Berbagai jenis danformat perang adalahhasil inovasi dari peradaban insan mengingat perang adalahkebudayaan sekaligus institusi tertua sejak keberadaan manusia.


Teknologi Informasi - Perkembangan format perang laksana jangkauan sampai teknologi seolah menjadi kompetisi yang didapatkan dari interaksi aktor di dalamnya yang diklasifikasikan sebagai perang generasi kesatu, generasi kedua, generasi ketiga, dan generasi keempat di mana dalam masing-masing generasinya ada perbedaan yang gampang kelihatan terutama dari sisi teknologi dan taktik. Misalnya saja dalam perang generasi kesatu dan kedua mempunyai perbedaan yakni generasi kedua sudah memakai senapan karabin dan bedil otomatis, sementara generasi kesatu belum.

Demikian pun generasi kedua dan ketiga mempunyai perbedaan dalam taktik, mobilitas, dan teknologi. Sedangkan generasi keempat mengindikasikan perbedaan dengan generasi sebelumnya di mana perang ialah sentralistis dan melulu dimonopoli oleh negara. Pada generasi keempat perang pulang ke format desentralisasi laksana pada masa kuno, tetapi denganpemakaian teknologi yang lebih maju sebagaimana anda saksikan ketika ini. Artinya, sekarang perang dapat dilaksanakan oleh aktor siapa juga melalui pertolongan teknologi dalam sekian banyak  rupa dari perang informasi sampai cyber war.

Melihat pola pertumbuhan tersebut, salah satu misal penemuan konvensional yang secara tidak langsung dominan  pada perang ialah penemuan dinamit oleh seorang ilmuwan asal Norwegia, Alfred Nobel. Iamengaku niatnya mengejar bahan peledak melulu untuk menolong memudahkan kehidupan manusia, dalam urusan ini konstruksi dan pertambangan. Tetapi faktanya penemuannya justru dipakai secara luas dalam pemakaian militer, berlawanan dengan tujuan mula ia mengejar benda tersebut.

Baca : Pemerintah bakal bangun data center khusus guna smart city

Demikian pun dengan pemakaian teknologi informasi dan komunikasi. Sebut saja konflik bersenjata di Suriah dan Ukraina. Keduanya adalahkonflik bersenjata kontemporer yang unik untuk dijadikan contoh. Kedua konflik tersebut memakai berbagai format taktik dan teknologi untuk membuat disinformasi, propaganda, hingga kenaikan konflik di ranah siber. Hal inimengindikasikan bahwa inovasi dan taktik dalam berperang tidak jarang kali didukung dengan pertumbuhan teknologi.

Tetapi akan hadir satu pertanyaan: bagaimana andai menggunakan teknologiitu untuk destinasi perdamaian? Tentu saja mayoritas pihak menyetujui bahwa pengembangan teknologi yang ditujukan guna perang jauh lebih maju dan "selalu" memiliki sekian banyak  "inovasi baru" bila dikomparasikan dengan destinasi untuk perdamaian.

Belajar dari konflik bersenjata kontemporer di Libya, Suriah, dan Ukrainatelah saatnya anda memanfaatkan teknologi guna bertujuan meminimalisir konflik tersebut sendiri. Teknologi dapat membuat konflik, lagipula mengarah untuk konflik bersenjata. Hal ini dapat dimulai dari mana saja,laksana satu artikel aspirasi di sosial media, video, dan semacamnya yang akhirnya malah malah memunculkan potensi gesekan sosial hinggakenaikan konflik bersenjata.

Pelajaran yang paling berharga dari kejadian Arab Spring serta kekacauanbeda yang disebabkan oleh peran teknologi menjadi bahan kajian untuk berbagai kalangan. Dalam urusan ini semua pemangku otoritas di Indonesiapun mulai melirik pemakaian positive approach teknologi sebagaiperangkat untuk membuat dan mengawal perdamaian. Umumnya laksana kita ketahui mengawal perdamaian tidak jarang kali identik dengan blue helmet PBB bersenjata lengkap. Tetapi mengawal perdamaian dapatdilaksanakan dengan memakai perantara teknologi guna membina narasi perdamaian tersebut sendiri.

Nyatanya, ketika ini urusan yang terjadi di Indonesia ialah imbauan dananjuran kampanye anti-hoaks yang berlangsung memanfaatkan media internet untuk mencegah penyebaran-penyebaran konten palsu hingga mempunyai sifat "hatred" yang menunjukkan pada potensi ancaman kekerasan dan konflik horizontal dengan menyebarkan informasi serta narasi-narasi positif sebagai lawan penyeimbangnya. Ide yang telah diinisasi olehsebanyak institusi itu ditujukan sebagai counter atas konten informasi yang mengarah untuk hasutan, kebencian, dan perbuatan terorisme. Meski dalam aktualisasinya masih menghadapi tantangan, tetapi pasti tidakmemblokir peluang sinergi untuk institusi berhubungan yang seandainya relevan dan menggandeng kalangan dominan maupun sampai akar rumput di masyarakat lewat pemanfaatan pemakaian teknologi.

Walau bagaimanapun pertumbuhan teknologi memang tidak dapat dibendung. Segala potensi yang terdapat di dalamnya menyerahkan semacam kesempatanuntuk para berpengalaman strategi dan ketenteraman untuk pulang mengenali guna dan destinasi dari pemakaian teknologi tersebut. Tetapiterdapat satu urusan yang harus diingat, pemakaian teknologi dalamkenaikan konflik sudah paling umum terjadi tetapi dalam upaya perdamaian tampaknya masih butuh perhatian lebih serius.

Oleh karena tersebut menjadi tugas untuk para perumus kepandaian dan pemangku otoritas di Indonesia supaya semakin mengenali guna teknologi sebagai means untuk menangkal potensi gesekan kenaikan konflik. Sekaligus, membuat dan mengawal perdamaian yang diupayakan melaluieksistensi program sinergitas itu sebagai tahapan kongkret inisiatif pemerintah dalam menghadapi problematika tantangan ketika ini.

Baca Juga : Mewujudkan ‘Teknologi guna Keadilan’ Melalui SIMSI 2.0

0 komentar:

Posting Komentar