Selasa, 28 Mei 2019

Teknologi Informasi | teknologi informasi bahasa inggris


Nenek Setsuko Takamizawa bertekad untuk memperlihatkan bahwa tidakterdapat kata terlambat guna belajar, ketika dia mulai mempelajari bahasa Inggris sebelum Olimpiade Tokyo, bahasa yang dirasakan "musuh" di masa kemudian Negeri Sakura.

Ketika Jepang menjadi tuan lokasi tinggal Olimpiade Musim Panas pada tahun 1964, Takamizawa terlampau sibuk mengurus keluarga, sampai-sampai ia tidak dapat datang ke ajang olahraga tersebut.


Teknologi Informasi - Takamizawa bakal berusia 92 tahun saat Olimpiade kembali dilangsungkan di Tokyo pada bulan Juli tahun depan. Ia bercita-cita bisa merasakan semua susunan acara yang digelar.
Dia ialah satu dari 200 ribu orang yang sudah melamar sebagai sukarelawan di Olimpiade dan Paralimpiade. Sukarelawan ditugaskanmenolong para pengunjung Olimpiade, baik dari dalam atau luar negeri. 
Meskipun bukan kualifikasi wajib, tetapi kemampuan berkata bahasa Inggris ialah keterampilan urgen yang ditelusuri oleh panitia dan Takamizawa ingin dapat menguasainya.
"Ketika saya baru masuk SMA, Perang Dunia Kedua pecah," kata Takamizawa yang saat didatangi sedang berangjangsana ke Stadion Olimpiade yang sedang di bina di pusat kota Tokyo.


"Di tahun kedua saya sekolah, bahasa Inggris dilarang karena dirasakan sebagi bahasa musuh."
          Takamizawa menuliskan cucu-cucunya sudah meyakinkannya bahwa dia belumterlampau tua guna belajar bahasa Inggris.
"Saya sama sekali tidak bisa berkata bahasa Inggris, saya bercita-cita bisa mempelajarinya," ujar Takamizawa.
"Ketika saya berkata dengan cucu saya tentang kemauan saya, mereka berkata, 'Belum terlambat. Kami bakal mengajari kita satu kata sehari. Ini bakal menjadi kendala yang bagus guna Anda'."
Berdasarkan keterangan dari penyelenggara, tidak cukup dari 1 persen dari pelamar program sukarelawan berusia lebih dari 80 tahun.
Takamizawa merasa dengan berbahasa Inggris ia dapat menceritakan kisahuntuk pendatang sekitar Olimpiade Tokyo. 
"Ketika saya mengajarinya kata 'dunia', nenek berkata: 'itulah yanghendak saya ketahui, dunia dan negara Anda. Saya hendak tahu mengenai dunia," kata cucu Takamizawa, Natsuko.


          Natsuko berkata bahasa Inggris dengan baik dan menjadi guru utama neneknya.
"Yang saya inginkan tidak saja kesempatan untuk berkata bahasa Inggris, tetapi pun bertemu dengan tidak sedikit orang dengan pelbagai budaya dan nilai-nilai, dengan memakai bahasa Inggris sebagai media," tambah Takamizawa.
Membuka Diri untuk Dunia Berdasarkan keterangan dari EF English Proficiency Index, Jepang sedang di peringkat ke-49 salah satu negara-negara di mana bahasa Inggris bukan bahasa kesatu, di bawah negara-negara laksana Chile, Belarusia, dan negara tetangganya, Korea Selatan.
Kondisi ini perlahan-lahan berubah saat generasi yang lebih muda mempelajari bahasa Inggris dan bahasa Inggris menjadi mata latihan sejakedukasi dini.
Takamizawa percaya evolusi nyata tidak bakal terjadi, kecuali andai orang-orang Jepang berpikiran lebih terbuka untuk dunia.
"Hanya ada tidak banyak orang Jepang yang berpikiran terbuka, yang dapat berbahasa Inggris atau yang tertarik pada dunia," katanya tentang orang Jepang.
"Tapi mereka mesti mengenal dunia di samping negaranya. Kita mestihidup dan beraksi tidak melulu sebagai orang Jepang tetapi pun salah satu warga dunia. "
        Natsuko mengirimi neneknya ucapan-ucapan bahasa Inggris baru guna dipelajari masing-masing hari melewati telepon dan mereka pun secaratertata duduk bareng untuk mempelajari perbendaharaan kata yangdiperlukan Takamizawa guna datang ke Olimpiade.
"Selamat datang di Tokyo, ini ialah Stadion Olimpiade, bagaimana sayadapat membantu Anda?" kata Takamizawa seraya berseri-seri saat diminta untuk mengeja kalimat bahasa Inggris yang sudah ia pelajari.


Bagi cucunya, keingintahuan sang nenek ialah sumber sukacita sejati.
"Niat saya ialah bahwa saya hendak memberinya kebahagiaan pada usianya yang ke-90," kata Natsuko.
"Sangat mengasyikkan bisa mengobrol dengannya. Ini tidak saja tentang Olimpiade Tokyo. Saya menyaksikan bahasa Inggrisnya semakin baik. Inipun menjadi kebahagiaan saya sekarang," lanjutnya.
Dengan tidak banyak lebih dari 500 hari tersisa sampai Olimpiade dimulai, semua keluarga Takamizawa hendak menyambut warga dunia yangakan berkunjung ke Tokyo.
"Saya pasti saja bersemangat. Saya tidak pernah beranggapan untukmenyaksikan Olimpiade di Tokyo dua kali dalam hidup saya, "kata Takamizawa.
"Sangat menyenangkan dapat berumur panjang."

0 komentar:

Posting Komentar