Rabu, 15 Mei 2019

Teknologi Informasi | teknologi informasi masa lalu

Teknologi Informasi | Kisah Kodak vs Fujifilm 
di Masa Lalu

Dalam acara live pitching Thinkubator, Jumat (29/3/2019) malam WIB, CEO Tokopedia William Tanuwijaya menyebut pengalaman Kodak dan Fujifilm. Iamenyinggung Fujifilm dapat terus berjalan sebab berevolusi. Benarkah?

Kisah kedua perusahaan ini bermula sejak tahun 1980-an. Fujifilmmengenalkan kamera 35mm disposable pada 1986, dan dibuntuti oleh Kodak pada 1988. Untuk kedua perusahaan ini, film 35mm ketika itu ialah segalanya.


Teknologi Informasi - Bisnis utama dua-duanya memang ialah film dan penjualan perlengkapan post-processing. Pada 2000 -- sebelum era kamera digital -- penjualan barang berhubungan film adalahpenyumbang 72% pemasukan Kodak, dan 60%untuk Fujifilm.
Pada era tersebut Kodak dan Fujifilm ialah penguasa penjualan film danperlengkapan pemrosesannya. Memang, ada pun perusahaan lain laksana Agfa dan Konica, tetapi pangsa pasar dua-duanya jauh di bawah Kodak dan Fujifilm.

Namun, nasib dua-duanya berubah saat era kamera digital datang, tepatnyasaat pemakaian internet dan PC bertambah dan konsumen mulai melakukan pembelian kamera digital. Transisi dari film ke digital ini paling menyulitkan produsen film kamera.

Baca Juga : 3 Manfaat Teknologi Dalam Pekerjaan

Pasalnya, siapa saja dapat memproduksi kamera digital dan itu bertolak belakang dengan film yang susah untuk diproduksi sebab melibatkan proses yang paling kompleks. Kodak dan Fujifilm mesti rela kehilangan posisinya sebagai pemegang pasar dan berlomba dengan belasan perusahaanbeda dengan margin rendah di bisnis kamera digital.

Ya, kedua perusahaan tersebut akhirnya memang berevolusi mengekor pasar dengan memproduksi kamera digital. Bahkan, Kodak memiliki pangsa pasar kamera digital sebesar 21,3% di Amerika Serikat pada 2005, jadi ini bukan soal evolusi.

Memang, penjualan kamera Kodak pun tak bagus secara global. Awalnya Kodakmemiliki pangsa pasar 27% secara global pada 1999. Namun angka tersebut terus menurun, 15% pada 2003, dan 7% pada 2010 sebab terus digerus oleh Canon, Nikon, dan sejumlah produsen lainnya.

Persoalan utamanya ialah penjualan kamera digital Kodak tersebut tak menghasilkan uang, justeru merugikan mereka. Untuk masing-masing kamera digital yang mereka jual pada 2001, Kodak merugi USD 60, dan padakesudahannya mereka bangkrut pada 2012.

Fujifilm juga sebenarnya merasakan masalah yang sama, tetapi merekadapat selamat dari dalam masa transisi film ke digital itu. Apa tahapan yang dipungut Fujifilm tetapi tak dipungut Kodak? Diversifikasi.

Pada 2010, ketika pasar film merosot menjadi tidak cukup dari 10%, Fujifilm dapat mengembangkan pemasukannya sebesar 57% andai dibanding pada 2000. Sementara Kodak pemasukannya justeru menurun 48% dalam rentang masa-masa yang sama.

Baca Juga : Disrupsi Fintech di Era Digital Perbankan, 
Tantangan Tingkatkan "Customer Value"

Fujifilm merestrukturisasi bisnis filmnya dengan menyunat lini buatan dan menutup kemudahan yang tak diperlukan. Di ketika yang sama mereka pun melakukan riset untuk dapat mengadaptasi teknologi yang dipunyai Fujifilm ke lokasi lain.

Hal ini dilaksanakan karena bisnis kamera digital tak laksana bisnis film kamera, sebab margin keuntungannya yang rendah. Alhasil Fujifilmjuga merambah bisnis farmasi, kosmetik, dan bahkan merambah buatan panel LCD lewat FUJITAC, suatu komponen urgen dalam buatan panel LCD yang adaketika ini.

Kodak Gagal Karena Tidak Berevolusi?

Menyebut Kodak tidak berhasil  di bisnis ini sebab tidak berevolusi memang tidak salah. Narasi yang berkembang sekitar ini ialah Kodakialah perusahaan yang terjebak di era film dan tak dapat mengikutipertumbuhan pasar kamera digital.

Namun, yang pun perlu diketahui merupakan, Kodak sebenarnya memiliki lini kamera digital yang lumayan besar. Bahkan, Kodak juga dapat dibilang sebagai inventor kamera digital ketika mereka mengembangkan teknologi itu pada 1975.

Kodak menggelontorkan miliaran dolar untuk penelitian dan pengembangna kamera digital. Namun tersebut juga yang menjadi kekeliruan Kodak,yakni menggantungkan nasibnya di bisnis fotografi. Berbeda dengan Fujifilm yang dapat melihat bila bisnis fotografi akan merasakan perubahan besar yang tak menguntungkan untuk mereka.

Kodak sempat memasang 10 ribu kios percetakan potret digital pada tahun 90an, yaitu guna mereplikasi bisnis filmnya di era digital. Namun era kamera digital mengolah model bisnis fotografi sebab konsumen tak lagi mencetak potret mereka, sebab mereka lebih senang membagikannya lewat internet, yakni setelah timbulnya jejaring media sosial laksana Friendster dan lantas Facebook.

0 komentar:

Posting Komentar