Sabtu, 11 Mei 2019

Teknologi Informasi | teknologi informasi brawijaya

Teknologi Informasi | Universitas Brawijaya 
Gandeng Intelijen Cegah Radikalisme


Universitas Brawijaya (UB) Malang, Jawa Timur menggandeng intelijen guna berkoordinasimenahan paham radikalisme di lingkungan kampus mereka. Intelijen bakal diterjunkan untuk mengawasi pergerakan mahasiswa, tergolong pihak-pihak dari luar yang masuk ke kampus.

"Kami memang minta pertolongan intelijen untuk menyaksikan pergerakan mahasiswa,khususnya yang dari luar kampus. Dan, seringkali ketika terdapat mahasiswa yang meresahkan atau merugikan, intel yang menghubungi saya langsung," kata Rektor Universitas Brawijaya Muhammad Bisri, yang dilansir dari Antara, Rabu (6/6).


Teknologi Informasi - Ia mengakui pihaknya tidak mungkin memantau setiap pekerjaan mahasiswa secara detailsebab jumlah mahasiswa di kampus ini lebih dari 60 ribu. Karenanya Rektorat menggandeng intelijen yang bakal langsung berkoordinasi dengan Wakil Rektor III.

"Memang susah. Nantinya Wakil Rektor (WR) III yang bakal berkoordinasi dengan intelijen," ujar Bisri.

Sejauh ini organisasi atau unit pekerjaan mahasiswa (UKM) yang ditengarai dapat menjadidi antara masuknya radikalisme telah dipantau. Pihak kampus pun mengawasi organisasi-organisasi tambahan kampus.

Sementara organisasi Islam di kampus laksana Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Bisri menilai tidak terdapat masalah. Selama ini

Berdasarkan keterangan dari dia, yang tidak terdeteksi ialah mereka yang begerak dengan sembunyi-sembunyi, terutama yang tidak terorganisir atau bergerak secara individual.

"Ini pun susah diperhatikan oleh rektorat. Dulu sempat akan tidak mengizinkan satu organisasi yang dirasakan radikal guna tidak melakukan pekerjaan terbuka di UB, sayangnya sampai kini prosesnya masih alot," katanya.

Namun, lanjutnya, kini sudah dilarang oleh pemerintah, inginkan tidak inginkan organisasi tersebut wajib bubar, sampai-sampai sekarang lebih enak pengawasannya.

Di samping menggandeng intelijen, kata Bisri, pihaknya pun melakukan tahapan lain secara internal untuk menangkal paham radikalisme, yaitu memperkuat karakter moraluntuk mahasiswa di masjid-masjid. Kemudian ada pun mata kuliah yang telah dirancang dengan memasukkan poin-poin Pembinaan Karakter Berbasis Religi (PKBR).

Baca Juga : Menghadapi Era 4.0, UMY Gelar Business Summit 2019

PKBR adalah pembinaan jati diri yang bersangkutan dengan keagamaan. Hanya saja, implementasinya tidak selalu bersangkutan dengan ketuhanan. PKBR pun membantu mahasiswa membentuk jati diri profesional. "Mata kuliah ini telah dipetakan dengan baik," ujarnya.

Sebelumnya BNPT merilis terdapat tujuh kampus yang diperkirakan kuat menjadi lahan subur tumbuhnya paham radikalisme. Kampus-kampus itu, yaitu Universitas Indonesia (UI), Institut Pertanian Bogor (IPB), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Diponegoro, Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB).

IPB Tunggu Klarifikasi

Sementara itu, Rektor IPB, Arif Satria menuliskan pihaknya telah meminta klarifikasi BNPT berhubungan data yang melafalkan tujuh kampus telah terpapar paham radikalisme. Dia bercita-cita bisa mendapat informasi rinci dari BNPT tentang tujuh kampus yangdilafalkan itu

"Kami dengan BNPT masih terus klarifikasi, kami bercita-cita BNPT dapat memanggilsemua pimpinan perguruan tinggi untuk dapat memberikan informasi yang lebih menyeluruh dan lebih utuh, sampai-sampai kita dapat mencermati," kata Arif dilansir Antara, Rabu (6/6).

Arif menuliskan, sebagai perguruan tinggi, IPB mesti dapat terbuka terhadap masukan maupun kritik. Karena terkadang tidak seluruh diketahui IPB secara 100 persen, laksana temuan BNPT tersebut.

Menurutnya, masyarakat hendak mengetahui secara rasional dan objektif klarifikasi dari BNPT berhubungan bagaimana tujuh nama kampus tersebut dapat muncul.

"Supaya dapat fair, agar lebih enak, kalau tersebut menurut hasil kajian, apakriterianya, caranya bagaimana, pemungutan data laksana apa," katanya.

Arif mengakui, pengakuan BNPT dimana isunya telah menyebar luas, maka IPB dalam posisi yang dirugikan. Sebab stigmatisasi tersebut bagian dari penyederhanaan dan generalisasi terhadap masalah-masalah yang ada.

"Jangan hingga nanti seluruh orang ke masjid takut, inginkan mengaji takut, gunakan kerudung takut, itu dirasakan radikal, ini sesuatu yang tidak kondusif," katanya.

Arif menambahkan, stigmatisasi radikalisme di kampus ini pun bisa dominan  pada kekhawatiran orang tua, dan calon-calon mahasiswa, yang semestinya di era seperti ketika ini mesti menyerahkan informasi yang kondusif.

Baca Juga : Cara mengukur valuasi bisnis perusahaan digital

0 komentar:

Posting Komentar