Jumat, 10 Mei 2019

Teknologi Informasi | teknologi informasi dalam pembelajaran

Teknologi Informasi | Pendidikan Era “Post-Truth”


Tanggal 2 Mei diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Peringatan kali ini menjadi momentum mengevaluasi dan mengkritisi dunia pendidikan. Hardiknas pun sebagai pisau pembedah analisis peradaban pendidikan sehingga dapat menghadapi kendala era revolusi industri yang telah mengirimkan generasi bangsa ke pascakebenaran (post truth).

Angkatan post truth merupakan beberapa besar dihuni generasi Z, di mana setiap pribadi dikategorikan sebagai melek internet. Inilah yang lantas pascakebenaran dirasakan sebagai generasi digital. Eksesnya, seluruh lebih percaya terhadap berita viral, tanpameneliti benar atau salah. Maka, tidak boleh heran bila kendala dunia edukasi semakin berlipat. Mereka menghadapi tidak hanya sistem pendidikan, tapi pun era disrupsi yang meniscayakan kecepatan.



Teknologi Informasi - Saat ini, peperangan di media sosial lebih menekankan menang kalah. Mereka tidak peduli benar atau tidak. Untuk mereka, menyerang secara verbal merupakan tahapan yang mesti diambil, sampai-sampai kebenaran bukan lagi menjadi prioritas.

Mereka sengaja menciptakan kegaduhan di media sosial. Tujuannya melulu untuk mengadu domba. Di beda pihak, generasi post truth gampang percaya dengan informasi, tanpa verifikasi. Pada akhirnya, informasi tersebut pulang menjadi kabar bohong (hoaks).

Fenomena tadi pasti saja tidak lepas dari sistem pendidikan yang belum sempurna, di manasemenjak era 2000-an, dunia pendidikan merasakan pergeseran paradigma dan pembelajaran konvensional mengarah ke berbasis teknologi informasi (TI).

Sistem pembelajaran konvensional mesti beradaptasi dengan generasi digital (digital generation) guna mengisi tantangan global. Pada Kuri¬kulum Berbasis Kompetensi (KBK)pelajaran pembelajaran berbasis TI berdiri menjadi satu mata latihan khusus, yaitu Teknologi, Informasi, dan Komunikasi (TIK).

Di samping itu, baru-baru ini diadakan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Kebijakan UNBK merupakan tahapan progresif dunia pendidikan guna mengisi tuntutankemajuan bangsa. Terlebih lagi untuk generasi kini yang melek TI.

Tidak bisa dimungkiri bahwa masing-masing generasi memiliki karakteristik masing-masing. Begitu juga dengan generasi milenial atau Gen Z yang kerap dinamakan generasi Zang yang bermunculan antara tahun 1995-2010. Rentang umur generasi Z termasuk dalamkelompok sangat produktif, an-tara 17–36.

Baca Juga : Cara mengukur valuasi bisnis perusahaan digital

Menariknya, generasi Z merupakan era yang bermunculan dan tumbuh dengan udara melek informasi, sampai-sampai mempunyai kecenderungan lebih progresif, inovatif, dan kreatif dalam me-nyikapi arus globalisasi. Maka, lahirnya generasi Z membuka tirai gaya hidup (life style) baru yang cakap memanfaatkan kesempatan dan peluang melewati TI.

Di negara maju, keperluan terhadap TI memupuk spirit pascakebenaran guna mengeksplorasisekian banyak  inovasi. Misalnya, Bill Gates (Microsoft), Steve Jobs (Apple), Larry Page dan Sergey Brin (Google), serta Mark Zuckerberg (Facebook).

Sayangnya, generasi Z Tanah Air belum dapat menunjukkan gebrakan inovatif layaknya negara maju. Hal itu terlihat dari perdebatan rendahnya kualitas edukasi yang masih mengakar, menilik pendi¬dikan adalahgarda terdepan sebagai barometer kemajuan suatu bangsa.

Sungguh ironis, menurut data UNESCO (2000) peringkat Indeks Pengembangan Manusia, kualitas edukasi Indo¬nesia masih paling memprihatinkan. Dari 174 negara, Indonesiamenduduki urutan ke-102 (1996), 99 (1997), ke-105 (1998), dan ke-109 (1999). Sedangkan pada tahun-tahun sebelumnya, di area Asia, kualitas edukasi Indonesia berada pada urutan sangat buncit dari 12 ne-gara. Lebih tragis lagi, bobot pendidikan tinggi tanah air pun mengalami kemerosotan tajam.

Temuan data Times Higher Edu¬cation pada Uni¬versity Rankings 2015-2016, Indone¬sia melulu menem¬patkan satu PTN, Universitas Indonesia, pada urutan ke-601 dari 800 PTN dunia. Pada level Asia Tenggara, Indonesia hanya bercokol pada posisi ke-11. Kita jauh terbelakang dari negara-negara te¬tangga.

Baca Juga : Sisi Gelap Teknologi dan Informasi: Kurikulum STEM Saja Tidak Cukup

Meski begitu, mewujudkan generasi Z yang melek informasi untuk mendongkrak bobot pen¬didikan tanah air malah terganjal sekian banyak  kendala dan kepentingan tertentu. Di sinilah sebetulnya salah kaprah orientasi edukasi nasional yang secara mengharukan mengalami kegagalan dalam mengaktualisasikan generasi Z.

Pemangku kebijakan malah disibukkan dengan sekian banyak  agenda bongkar pasang men¬teri, ganti kurikulum, kebijakan UN, dan lainnya yang semestinya tidak terlampau penting. Padahal, memprioritaskan pendidikan kemampuan (skill education) untuk generasi Z sangat urgen.

Aktualisasi

Memberi akses selebar-lebarnya untuk generasi Z untuk mengaktualisasikan potensi menjadi tugas urgen pemangku kebijakan. Dalam kitab Pedagogy of the Oppressed ditegaskan bahwa pendidikan menciptakan anak didik terpencil (alienated) dari lingkungan dan budayanya sendiri serta tidak memiliki kemampuan khusus yang membuatnyaberdikari (Hadar, 2014).

Belajar dari keberhasilan sis¬tem edukasi di Finlandia yang menduduki urutan wahid di dunia tidak menghiraukan agenda peralihan kurikulum, UN, dan lainnya. Pembelajaran di Finlandia tidak merealisasikan agenda tugas lokasi tinggal (PR), tidak terdapat UN, kurikulum edukasi fleksibel, dan guru berbobot  berkualitas terbaik. Setidaknya misal ter¬sebut sampai kini masih dipri-oritaskan sistem edukasi Tanah Air.

Oleh sebab itu, belajar dari kelebihan sistem edukasi Finlandia, agenda peralihan menteri dan kurikulum tidak butuh terlalu mengharukan hingga berlarut-larut menyita perhati¬an publik. Seyogianya, agenda urgen yang butuh direalisasikan pemangku kebijakan, membetulkan sistem pendidik¬an. Hal itu dapat dimulai dari pe¬ningkatan bobot pendidik melalui skill education.

Harapannya, skill education untuk generasi Z menjadi sarana progresif guna menjembatani potensi yang masih terpendam. Peningkatan kualitas pendidik segera terealisasi andai diimban¬gi dengan sistem edukasi yang mengasyikkan (learning is fun) serta edukasi melek TI. Inilah sebetulnya tantangan besar generasi Z yang mesti anda tuntaskan bersama-sama supaya Hardikanas tidak menguap be¬gitu saja.

Baca Juga : Telkomsel Rilis Solusi IoT Manajemen BBM

0 komentar:

Posting Komentar