Jumat, 10 Mei 2019

Teknologi Informasi | teknologi informasi saat ini

Teknologi Informasi | Cara mengukur 
valuasi bisnis perusahaan digital

     Perkembangan industri digital begitu mengherankan dalam dua dasawarsa terakhir.
Digitalisasi sudah mengubah tidak sedikit hal. Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) telah membawa era digital menjangkau puncaknya pada ketika ini.
Keadaan tersebut telah mendorong revolusi di sekian banyak  bidang. Di bidang bisnis, TIK secara mendasar telah mengolah pola perusahaan dalam mengelola bisnisnya untukmenambah keuntungan mereka secara masif. Selanjutnya urusan ini membuat lanskap industri yang kian kompetitif dan sarat dengan ketidakpastian.


Teknologi Informasi  - Tantangan terbesar kalangan bisnis ketika ini ialah bagaimana menyiasati pertumbuhan TIK supaya bisa memanfaatkannya seoptimal mungkin.
Saat ini sulit mengejar perusahaan yang tidak tersentuh TIK, konsumen dari sekian banyak  jenis bisnis nyaris sepenuhnya menjadi unsur dari ekosistem digital. Bisa dibayangkan bagaimana besarnya perputaran bisnis di ekosistem TIK, di samping bisnis yang yang tidak terhindarkan guna memanfaatkannya, menjadi pelaku bisnis di bidang ini pun adalahhal yang kian menggiurkan.
Fenomena bisnis digital telah terasa di Indonesia dengan timbulnya empat Unicorn alias startup dengan valuasi US$1 miliar laksana GOJEK, Traveloka, Bukalapak, dan Tokopedia.
Startup Indonesia ini hanya perlu waktu tidak cukup dari 10 tahun guna mempunyai valuasi bisnis lebih dari Rp14 triliun. Padahal perusahaan-perusahaan konvensional mestiberjibaku sampai berpuluh-puluh tahun, tersebut pun untuk menjangkau Rp1 triliun.

Baca Juga : Bisnis Modal Jari Ala Masa Kini dengan MEDIV

Buku “Digital Business Valuation” yang baru diluncurkan Dr. Edi Witjara ST., MH., CMAmembicarakan variabel-variabel urgen yang menilai valuasi bisnis perusahaan digital.
Apa yang mengakibatkan perusahaan startup digital tersebut cepat berkembang? Penuliskitab ini mengerjakan penelitian yang mendalam soal peran Lingkungan Industri dan Aset Perusahaan digital terhadap Kemitraan Bisnis dan Inovasi Strategis yang mendorong naiknya Valuasi Bisnis perusahaan digital.
Banyak yang memandang aset perusahaan digital (termasuk startup) tidak begituberpengaruh saat perusahaan itu menjajaki kemitraan dengan perusahaan besar (investor),contohnya saat memerlukan pendanaan.
Ternyata, temuan Pria yang menjabat Senior Vice President (SVP) Group Financial Planning Analysis & Control (GFPAC) Telkom tersebut menunjukkan Aset Perusahaan adalahaspek yang berperan lebih dominan dikomparasikan Lingkungan Industri dalam mengembangkan Kemitraan Bisnis dan Inovasi Strategis.
Apa yang dapat dilakukan perusahaan digital ruang belajar startup supaya bisadianggarkan investor? Aset apa yang mesti diperhitungkan? Buku ini menjawabnya dengansebanyak tips.
Ekosistem

Baca Juga : Organisasi APO Selenggarakan Pelatihan Tentang Efek Teknologi Terhadap Sektor Kesehatan

     Berdasarkan keterangan dari Martin J. Fransman, ekonom dari University of Edinburg, Skotlandia, dalam kitab The New ICT Ecosystem: Implications for Policy and Regulation, ekosistem ICT dapat dipisahkan menjadi tiga lapis (layer) elemen.
Lapis kesatu ialah Equipment Provision yang dipenuhi oleh perusahaan-perusahaan penyedia perlengkapan teknologi laksana Alcatel-Lucent, NEC dan Siemens.
Lapis kedua ialah Network Operation yang didominasi oleh operator telekomunikasilaksana AT&T, France Telecom, dan Deutche Telecom di mana teknologi yang digunakannyamencakup telefoni, televisi (TV), dan internet. Sedangkan lapis ketiga ialah Internet Access, Navigation, Content Provision, dan Social Media seperti software Google dan Facebook.
Di dalam keterikatan tersebut ada hubungan simbiosis (symbiotic relationship) dariunsur yang terdapat dalam ekosistem ICT tersebut.
Simbiosis ini paling tidak mencakup empat dimensi yakni Financial Flow (arus jual-beli), Material Flow (arus barang), Information Flow (arus informasi), dan Input flow into Innovation Process (input guna perbaikan/inovasi).

     Interaksi antar-elemen (dalam urusan ini arus uang, arus barang, dan arus informasi)bisa menghasilkan lessons learned yang merangsang perbaikan lebih lanjut dari keterhubungan elemen-elemen itu yang pada gilirannya merangsang munculnya inovasi-inovasi baru. Dalam kaitan ini ekosistem TIK berisi bagian kemitraan, inovasi, investasi, dan lingkungan bisnis di mana hubungan simbiosis terjadi salah satu elemen tersebut.
Tentu saja muara dari seluruh itu ialah final consumer. Final consumer (masyarakat) ini tidak melulu berinteraksi dengan lapis (layer) ketiga guna menjadi user dalam ekosistem TIK sebab pada dasarnya masyarakat pun menjadi user untuk setiap lapis (layer) tersebut.
Sebagai user lapis kesatu, masyarakat melakukan pembelian handset seluler, telepon rumah, komputer, dan sebagainya. Sebagai user lapis kedua, masyarakat menjadi pelanggan jaringan telekomunikasi dan internet (network operator).
Sedangkan sebagai user lapis ketiga menjadi pemakai layanan yang ditawarkan industri yang bergerak di bidang over the top (OTT) laksana Facebook, Google, dan sebagainya, yang jumlahnya kian beragam.

Baca Juga : Twitter Sebut Tak Hilangkan 'Trending Topic' Tertentu

     Dengan kian terdigitalisasinya masyarakat global menciptakan penerimaan mereka terhadap inovasi-inovasi baru di bidang TIK menjadi kian tinggi.
Industri berbasis Internet kian berkembang. Tentu saja ini menjadi kesempatan untuk mengembangkan inovasi seluas-luasnya dengan pendekatan yang beragam. Di satu sisi inovasi dimaksudkan untuk menambah efektivitas dan efisiensi kerja, kenyamanan pemakai, dan sejenisnya, di sisi beda masih tidak sedikit masalah sosial yang memerlukan inovasi-inovasi disruktif guna mengatasinya.
Bahkan, sebab teknologi digital dapat memenuhi tuntutan dari urusan kecil sampai yang besar, persoalan sederhana pun dapat menjadi objek inovasi yang menantang. Implikasinya, seluruh pihak dapat berperan mencetuskan inovasi berbasis digital yangmenciptakan ruang untuk para startup begitu besar.
Hal yang mesti diacuhkan adalah, gagasan sederhana andai diterapkan guna masyarakat dalam jumlah besar pada akhirnya mencetuskan bisnis besar.
Berkembangnya startup laksana GoJek, Tokopedia, Bukalapak, dan Traveloka yang sekarang sudah menjadi startup Unicorn, mengindikasikan bahwa gagasan sederhana mereka dalammenolong menyelesaikan permasalah umum di masyarakat, dapat menjadi bisnis yang menggiurkan.
Tentu saja tidak melulu mereka yang dapat meraih keberhasilan itu, startup beda pundapat mengikut jejaknya. Probelmnya merupakan, hal apa yang dapat mempengaruhi kesuksesan tersebut.

Melalui Digital Business Valuation Model yang didapatkan dari hasil penelitiannnya, penulis kitab ini mengejar sejumlah variabel yang perlu diacuhkan kalangan bisnis digital dalam mengembangkan bisnisnya supaya valuasi bisnis yang diharapkan dapat tercapai.
Di samping itu, model ini pun sudah diuji secara akademik yang mengirimkan penulis menjadi doktor bidang Ilmu Manajemen Bisnis dari Universitas Padjadjaran, Bandung, pada bulan Maret 2018, dengan predikat cum laude.

Baca Juga : Libatkan Pasar Tradisional, Mahasiswa UGM Kembangkan Aplikasi OkeSayur

0 komentar:

Posting Komentar