Kamis, 23 Mei 2019

Teknologi Informasi | perbedaan teknologi informasi zaman dulu dan sekarang

Teknologi Informasi | Zaman Sudah Canggih, 
Teknologi Black Box Masih Jadul

Penyelam TNI AL, Sertu Hendra, baru saja mengonfirmasi bahwa black box Lion Air PK-LQP sudah ditemukan utuh di Perairan Karawang pada kedalaman 30 meter. Penemuan kotak hitam ini menjadi elemen urgen dalaminvestigasi lebih lanjut berhubungan insiden jatuhnya pesawat Lion Air JT 610.

Hal itu lantaran black box menyimpan misteri yang dapat mengungkap penyebab kejadian kecelakaan. Ia bermanfaat untuk menyimpan pembicaraan yang terjadi antara pilot untuk krunya atau menara pengawas.

Di samping itu, black box juga dapat menyimpan sekian banyak  informasi dari tidak sedikit sensor di pesawat berhubungan masalah yang dapat jadi penyebab kecelakaan. Nantinya, informasi yang terekam bakal dijadikan tuntunan oleh pihak berwenang guna mengungkap misteri penyebab kecelakaan..



Teknologi Informasi - Walau memiliki keterampilan mumpuni, tetapi alat ini disebut telah jadul alias ketinggalan zaman. Apalagi di tengah pesatnya pertumbuhan teknologi pada zaman ketika ini.

Tahukah Anda bila black box yang jamak dipakai saat ini kesatu kali ditemukan pada 1950an? Lantas di unsur mana ketinggalan zamannya? Sebelum hingga ke bagian tersebut ada baiknya kita mencari lebih dulu secara singkat perjalanan lahirnya black box.

Adalah Dr. David Warren dari Australia yang kesatu kali mendesainnya. Ia terinspirasi dari kemalangan pesawat yang merenggut nyawa ayahnya pada 1934 ketika dirinya masih berusia 9 tahun.

Prototipe kesatu black box diciptakan pada 1956 dengan nama ARL Flight Memori Unit. Butuh selama 5 tahun untuk Warren sampai perangkat buatannya dirasakan penting oleh dunia penerbangan.

Sejak ketika itu, tidak ada evolusi berarti terhadap faedah maupun fitur yang dimilikinya. Black Box terdiri dari dua bagian, yakni Flight Data Recorder (FDR) dan Cockpit Voice Recorder (VCR).

Berdasarkan penjelasan dari Anthony Brickhouse, dari Embry-Riddle Aeronautical University, kampus penerbangan di Amerika Serikat, FDR bertugas menyimpan parameter penerbangan sekitar 25 jam sebelum ditimpa dengan rekaman baru. Informasi tersebut mencakup kecepatan, ketinggian, waktu, sampai arah pesawat.

Baca Juga : Petani Indonesia Bakal Bergaya Modern Berkat Teknologi Kekinian

Sedangkan VCR menyimpan pembicaraan antara pilot untuk krunya atau menara pengawas. Periode rekamannya sekitar dua jam, dan setelahnya iabakal terus merekam ulang dengan sendirinya dan menimpa data sebelumnya.

Black box terbaru sudah menggunakan kenangan jenis solid-state sebagai media penyimpanannya -- dalam satu urusan ini memang tak ketinggalan zaman. Adapun kapasitas penyimpanannya dapat menampung hingga 700 parameter data penerbangan.

Di samping itu, terdapat standar keamanan pun yang mesti dipunyai black box, yakni tahan api, tahan air, dan dapat menahan tekanan sampai di kedalaman 6.000 meter di bawah permukaan laut. Oh ya, black box tak berwarna hitam, tetapi jingga supaya mudah dilihat.

Melihat sederetan kemampuannya itu, di unsur mana sih ketinggalan zamannya? Nah, urusan ini mulai terlihat dari teknik untuk mengejar black box.

Ketika ia jatuh ke dalam air, maka black box akan mengantarkan getaran. Sayang, perangkat pelacaknya tersebut mempunyai baterai yang melulu tahan hingga 30 hari. Lewat dari situ, pencariannya bakal semakin sulit.

Salah satunya terjadi pada permasalahan kecelakaan Air France pada 2009. Petugas perlu waktu hingga dua tahun untuk mengejar black box.

Sejak kejadian tersebut, Prancis punya sejumlah gagasan untukmenyerahkan pengembangan terhadap perlengkapan tersebut. Beberapa di antaranya ialah mekanisme ketapel saat ia jatuh di permukaan air,hingga peningkatan keawetan pelacaknya hingga 90 hari.

Mungkin terdapat yang berpikir, mengapa tidak dicantumkan GPS saja? Sayang, tidak laksana smartphone, teknologi tersebut susah diterapkan pada black box.

Alasannya, perlengkapan ini perlu bandwidth super besar untukmengantarkan informasi sebab besarnya data yang disimpannya. Di samping itu, kecepatan akses data di tiap negara pun berbeda-beda sehinggateknik tersebut masih susah diimplementasikan.

Oke, bila teknik menemukannya susah diubah, bagaimana dengan cara penyimpanan datanya? Salah satu gagasan yang muncul ialah mengirim data rekaman di kokpit serta informasi penerbangan ke satelit dan ditabung di media penyimpanan miliknya.

Tidak melulu menghilangkan kekhawatiran andai black box tidak bisa ditemukan, namun rekaman yang dapat didengarkan secara real-time pun berpotensi guna mencegah kemalangan dengan mendeteksi masalah yang terjadi. Kedengarannya bagus, namun implementasinya tidak semudahmengembalikan telapak tangan.

Faktor penghalangnya ialah uang. Ide itu akan paling mahal guna diwujudkan. Pihak maskapai penerbangan mesti menambahkan komponen-komponen tertentu di semua armadanya, memesan satelit, dan menyelamatkan penyimpanan data.

Sekadar informasi, bandwidth data memakai satelit pun sangat mahal. Biayanya selama USD 1 per kilobyte, dengan potensi terus bertambah seiring masa-masa berjalan.

0 komentar:

Posting Komentar