Senin, 20 Mei 2019

Teknologi Informasi | informasi teknologi 5g


     Penerapan teknologi di semua dunia 5G tinggal menantikan waktu. Korea Selatan sudah resmi merilis April 2019 kemarin, disusul negara lain laksana AS dan China.
Akan tetapi, penerapan teknologi 5G dikhawatirkan bakal mengganggu sistem prakiraan cuaca. Interferensi frekuensi yang dipakai teknologi 5G ditebak akan meminimalisir akurasi sistem prakiraan cuaca hingga 30%. Jika tersebut terjadi, konsekuensinyalumayan fatal. Contohnya informasi bakal terjadinya badai baru bakal didapat 2-3 hari sebelumnya; tidak jauh-jauh hari laksana yang dapat dilakukan ketika ini.



Teknologi Informasi - Pokok persoalan terletak pada frekuensi 24 GHz yang menjadi di antara frekuensi 5G.

Seperti diungkapkan Wired, ketika terjadi penguapan air, proses ini bakal menghasilkan sinyal lemah di frekuensi 23,8GHz. Sinyal ini kemudian diciduk satelit prakiraan cuaca untuk lantas dimasukkan ke sistem pemodelan yang memperkirakan pergerakan awan dan badai. Jika frekuensi 5G memakai frekuensi 24 GHz, sinyal dari proses alam di 23,8 GHzitu akan susah dideteksi.

Ada sejumlah solusi yang sedang dipertimbangkan untuk menanggulangi problema ini. Salah satunya ialah menurunkan kekuatan sinyal dari antena 5G sampai-sampai tidak mengganggu kerja satelit cuaca. Solusi lain ialah menggunakan frekuensi lain. Teknologi 5G memungkinkan mempunyai rentang frekuensi yang besar, mulai 26 hingga 39 GHz.


Penerapan teknologi di semua dunia 5G tinggal menantikan waktu. Korea Selatan sudah resmi merilis April 2019 kemarin, disusul negara lain laksana AS dan China.

ADVERTISING

inRead invented by Teads
Akan tetapi, penerapan teknologi 5G dikhawatirkan bakal mengganggu sistem prakiraan cuaca. Interferensi frekuensi yang dipakai teknologi 5G ditebak akan meminimalisir akurasi sistem prakiraan cuaca hingga 30%. Jika tersebut terjadi, konsekuensinyalumayan fatal. Contohnya informasi bakal terjadinya badai baru bakal didapat 2-3 hari sebelumnya; tidak jauh-jauh hari laksana yang dapat dilakukan ketika ini.

Pokok persoalan terletak pada frekuensi 24 GHz yang menjadi di antara frekuensi 5G.

Seperti diungkapkan Wired, ketika terjadi penguapan air, proses ini bakal menghasilkan sinyal lemah di frekuensi 23,8GHz. Sinyal ini kemudian diciduk satelit prakiraan cuaca untuk lantas dimasukkan ke sistem pemodelan yang memperkirakan pergerakan awan dan badai. Jika frekuensi 5G memakai frekuensi 24 GHz, sinyal dari proses alam di 23,8 GHzitu akan susah dideteksi.

Ada sejumlah solusi yang sedang dipertimbangkan untuk menanggulangi problema ini. Salah satunya ialah menurunkan kekuatan sinyal dari antena 5G sampai-sampai tidak mengganggu kerja satelit cuaca. Solusi lain ialah menggunakan frekuensi lain. Teknologi 5G memungkinkan mempunyai rentang frekuensi yang besar, mulai 26 hingga 39 GHz.


Akan namun di samping frekuensi 23,8GHz, dunia meteorologi pun memiliki sejumlah frekuensi urgen lain. Yaitu frekuensi guna mendeteksi hujan dan salju (36-37 GHz), temperatur atmosfer (50,2-50,4 GHz) dan eksistensi awan dan es (80-90 GHz).

Baca Juga : Jenis-Jenis Software Serta Fungsinya, Harus Ada di Komputermu

0 komentar:

Posting Komentar