Rabu, 17 April 2019

Teknologi Informasi | teknologi informasi indonesia

Teknologi Informasi | Intip Perkembangan Media 
dan Tren Baru Masyarakat Digital



Teknologi Informasi  - Seiring berkembangnya teknologi informasi dari tahun ke tahun, makaurusan ini menimbulkan peluang baru, termasuk timbulnya media online. Media digital dinilai semakin tumbuh, berbanding terbalik dengan media lama laksana media cetak.

Melalui penjelasan resmi yang diterima Okezone, Senin (15/4/2019), konsultan bisnis PwC dalam laporan “Perspective from the Global Entertainment and Media Outlook 2017” melafalkan bahwa laju globalperkembangan koran dalam lima tahun ke depan ialah minus 8,3 persen.
Ini angka terendah sebab prediksi guna media massa konvensional lainnya (majalah, radio, televisi, dan buku) pun mengalami perkembangan minus pada 3,4-6 persen saja. Di sisi lain, PwC menebak media berbasis internet tumbuh 0,5 hingga 6 persen.

Fenomena stagnansi sampai penurunan global media cetak dan koran yang terjadi di Eropa dan Amerika semenjak 2009, kian nyata terjadi di Indonesia semenjak 2015 sampai 2017 ini. Hal ini dapat terlihat dari penutupan parsial atau total sebanyak media cetak bahkan dari kumpulan media besar.



Sementara data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan eskalasi jumlah pemakai internet di Indonesia. Dalam 15 tahun terakhir (2002 – 2017) terjadi eskalasi pengakses internet dari 4,5 juta warganet menjadi 145 juta warganet. Ada yang unik dari kelaziman warganet tersebut dengan merujuk data APJII 2016. Yakni, semangat warganet Indonesia dalam mengakses internet (dalam jawaban terbukanya) yang tertinggi ternyata bukan akses media massa daring atau berita,tetapi media sosial dan menggali hiburan.

Data yang dipaparkan Reuters Institute, 51 persen responden menyatakan memanfaatkan media sosial sebagai sumber berita. Portal berita tak lagi dilirik sebagai sumber utama informasi mereka, dengan angka 12 persen responden mengaku media sosial sebagai sumber utama mereka dalammenemukan berita.

Dari sumber yang sama pun mengungkap bahwa anak muda adalahgenerasi yang mengandalkan media sosial sebagai lokasi utama mendapat  beritadikomparasikan media konvensional laksana televisi. Terdapat 28 persen anak muda berusia 18 sampai 24 tahun yang mengungkapkan bahwa media sosial lebih utama sebagai sumber berita dikomparasikan televisi yangmelulu memperoleh 24 persen.

Di samping media sosial, software pengumpul berita atau news aggregatorpun berkembang lumayan pesat sebagai wadah masyarakat mendapat  berita. Perilaku orang mendapat  informasi juga berubah.

Berdasarkan keterangan dari Reuters Institute, 36 persen narasumber mengaku menyimak berita sebab direkomendasikan secara otomatis oleh mesin yang bekerja di belakang platform. Kabarnya, teknik ini menghasilkan persentase pembaca berita lebih tinggi dibanding konten-konten yang direkomendasikan oleh jurnalis atau editor.

Konten dari news aggregator dimoderasi dan berasal dari sumber terpercaya. Di samping itu, teknologi kecerdasan produksi yang terdapat di belakang platform news aggregator akan mengantarkan informasi menurut minat warganet.



0 komentar:

Posting Komentar