Kamis, 25 April 2019

Teknologi Informasi | teknologi informasi sekarang

Teknologi Informasi | Teknologi E-voting
 Cegah Manipulasi Data saat Pemilu


Teknologi InformasiTak dapat dipungkiri masyarakat kini ini telah semakin melek teknologi. Dalam penjelasan resmi yang diterima Okezone, Direktur Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi (PTIK-BPPT), Michael A. Purwoadi mengungkapkanandai tampaknya masyarakat mulai bosan dengan pemilihan suara yang belakangan ini berpotensi dimanipulasi.

Sehingga kehadiran e-voting pantas menjadi suatu metode yang patut diterapkan. Meskipun demikian, dalam penyelenggaraan e-voting tentu akan terjadi pro dan kontra.
“Teknologi e-voting memastikan berlangsungnya pengambilan suara dan perhitungan memakai TIK demi Pemilu yang transparan, jujur dan akuntabel serta bisa diaudit di tiap tahapannya, pantas dijadikan cara yang tepat untuk mengemban pemilu,” jelas Purwoadi.

Mengenai konsep e-voting Purwoadi menuturkan bahwa secara prinsip, sistem pemilihan elektronik tersebut menghilangkan teknis manual pada sistem pemilihan konvensional, laksana surat suara dan perhitungan manual serta rekapitulasi otomatis dan berjenjang.
Kemudian sistem pemilihan dan pengambilan elektronik memiliki limabagian perangkat, yakni pembaca KTP-el, generator kartu V-token, pembaca kartu pintar, e-voting, dan printer kertas struk.

Hasil perhitungan suara elektronik juga dapat langsung didapatkan begitu waktu pengambilan suara ditutup. Purwoadi menambahkan, hasil rekapitulasi juga dapat langsung dikirim ke pusat data di tingkat desa. Setelah hasil perhitungan pendapatan suara TPS dicetak, langsung dikirim ke pusat data dan terekapitulasi secara otomatis dan berjenjang mulai dari desa/kelurahan, kecamatan, kabupaten, provinsi dan nasional.

"Jadi, ini di samping quick count pun real count. Cepat dan akurat serta terverifikasi," jelasnya.

Hasil hitung cepat ini dinamakan Purwoadi sebagai e-rekapitulasi di mana pihaknya juga sejumlah saat lalu berjuang meyakinkan lembaga pelaksana Pemilu untuk memakai Pemilu ini demi menambah kualitas Pemilu di Indonesia, manakala KPU masih merealisasikan pemungutan suara manual.

Baca Juga : Perbankan mulai serap melakukan pembelian barang modal guna 
digitalisasi produk dan layanan


Form C1.plano difoto dan dikirim langsung dari TPS oleh KPPS dengan dibubuhi tanda tangan elektronik KPPS yang mengirim sebagai pemenuhan atas dokumen elektronik yang sah secara hukum untuk menyokong proses sengketa hasil pemilu di Mahkamah Konstitusi.

“Ke depan ya ini anda harus beranggapan untuk menyajikan data yang cepat, akurat transparan dan akuntabel. Saya yakin teknologi informasi dan komunikasi bisa mewujudkan ini,” ujarnya.

“Kita sampai ketika ini dapat perhatikan mulai dari Pemilu 2009, 2014,sampai 2019 ini dengan hitung konvensional nyaris sebulan hasilnya baru diumumkan. Sebab tersebut BPPT bakal terus berjuang mengedepankan wacana pemakaian e-rekapitulasi ini guna kedepannya,” katanya.

E-rekapitulasi, menurutnya pun adalahpilihan yang inovatif dan sangaturgen dalam mengemban salah satu pilar demokrasi yang berkualitas, yangdiinginkan mampu menangkal aspek manipulasi data. Teknologi ini jugadapat ditelusuri sumber kesalahannya, sehingga dianggap tetapmemastikan pemilu yang langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil.

“e-rekapitulasi ialah bagian proses yang sangat penting dari e-voting. Tepatnya yakni proses pengolahan, ekspedisi dan penayangan hasil rekapitulasi pendapatan suara pemilu di tiap tempat pengambilan suara, serta menghasilkan jejak audit,” jelasnya.

Purwoadi lalu mengaku bahwa pihaknya telah melakukan sekian banyak  kajian dan mempraktekan pemilihan umum secara elektronik di lebih dari 900 pilkades di mana secara hasil dan bukti pengamalan Pemilu dengan eVoting dan hasilnya dapat cepat terbit pada ketika TPS tutup.

0 komentar:

Posting Komentar