Sabtu, 20 April 2019

Teknologi Informasi | teknologi informasi its passing grade

Kabar Baik, Passing Grade CPNS Akan
 Dievaluasi Panselnas, Sabar Ya..


Teknologi InformasiFormasi tenaga pendidik atau guru dalam penerimaan CPNS tahun 2018 menjebol angka seratus ribu lebih. Perinciaanya yaitu, guru madrasah Kementerian Agama yang bertugas di kabupaten/kota 12.000 formasi, guru ruang belajar dan mata latihan 88.000 formasi, dan guru agama 8.000 formasi.

Untuk tes SKD CPNS masih akan dilangsungkan hingga 17 November mendatang. Tetapi, dari jeda tes yang mulai dilangsungkan 26 Oktober lalu, tidak sedikit peserta yang tidakmenjebol nilai ambang batas atau passing grade.

Adanya urusan tersebut tidak sedikit masukkan supaya passing grade itu dievaluasi oleh panitia seleksi nasional (Panselnas). Dengan asa passing grade tersebut dapat diturunkan ataupun dilaksanakan perangkingan di tiap-tiap formasi.

Hal ini juga mendapat tanggapan dari Badan Kepegawaian Nasional (BKN) dan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN-RB). Kepala Biro Humas BKN, Mohammad Ridwan menuliskan saat ini panitia seleksi nasional sedang mematangkan masukan-masukan yang ada berhubungan dengan passing grade SKD CPNS.

“Sabar ya, panitia seleksi nasional sedang menggodok seluruh masukan dari Ombudsman, BPKP (Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan), Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Badan Standardisasi Nasional, kesebelasan QA dengan data PG (passing grade) nasional,” kata Ridwan dikutip dari kompas.com.

Ditandaskan, passing grade yang ditentukan panitia sudah disesuaikan dengan standar yang ada. Tingkat kendala soal yang disiapkan Kemendikbud dan asosisasi PTN telah ada standarnya. Soal dalam CPNS dibentuk oleh 110 akademisi dari 18 perguruan tinggi di Indonesia.

Ditandaskan, bila mengacu peraturan opsi atau jawaban, memang soal diciptakan sedemikian rupa. Sehingga, dapat terkesan menyulitkan. Hal ini adalahpengembangan dari soal-soal SKD. “Jika tidak melakukan perubahan soal, maka soal-soal bakal semakingampang ditebak,” ujar dia.
Di sisi lain, Kepala Biro Hukum, Komunikasi, dan Informasi Publik KemenPAN-RB, Mudzakir menyampaikan, adanya penetapan nilai ambang batas adalahhasil dari ulasan panitia seleksi nasional CPNS dengan anggota sekian banyak  kementerian atau lembaga. Terkait dengan apakah bakal ada penurunan passing grade, ketika ini Kemenpan RB belum memungut keputusan.

“Saat ini kami masih berpegang pada peraturan yang ada,” kata Mudzakir.

Passing grade yang ada, dimaksudkan guna menjaring CPNS yang unggul. Ia menambahkan, pihaknya menyadari bahwa tidak sedikit pelamar yang tidak lolos. “Hal ini bakal dicarikan solusinya yang baik,” ujar dia

Seleksi Wujudukan Smart ASN di Tahun 2024

Di sisi lain, Deputi Bidang SDM Aparatur KementerianPAN-RB Setiawan Wangsaatmaja menyarakan, seleksi CPNS ketika ini yang dilaksanakan pemerintah, adalahlangkah mula mewujudkan smart Aparatur Sipil Negara (ASN) di tahun 2024.

Disampaikan, terdapat sejumlah poin yang mesti dipunyai Smart ASN tahun 2024. Seperti berintegritas yang diwujudkan melewati seleksi CPNS memakai sistem Computer Assissted Test (CAT). Dalam urusan ini, keterampilan peserta tes menilai lolos atau tidaknya tanpa ada pertolongan dari pihak manapun.

“Poin kedua yang mesti dipunyai Smart ASN tahun 2024 ialah nasionalisme, yang diwujudkan dengan 3 soal tes yang terdapat pada tes SKD yaitu tes TWK. TWK tahun 2018bertolak belakang dengan tahun tahun sebelumnya, bukan dengan hafalan tetapi memahamihakikat sebuah kejadian atau peristiwa,” katanya dikutip dari menpan.go.id.

Poin ketiga mesti mempunyai wawasan global, sebab tidak bisa dipungkiri ketika ini dunia telah menginjak revolusi industri 4.0 yang diperlihatkan dengan pemakaian teknologi informasi. Jika aparatur negara tidak mempunyai wawasan global, maka tidak bisa mengantisipasi isu yang berkembang di dunia.

Hal beda dan mutlak dimiliki ialah kemampuan memakai IT dan berbahasa asing. Di samping itu, Setiawan melafalkan ASN butuh mempunyai jiwa hospitality atau jiwa melayani, dimana sebagai aparatur negara dituntut mesti inginkan melayani masyarakat dan menjadikan pelayanan sebagai tugas utama.

Lihat Juga : Siapa Bilang Ilmu Sosial dan Budaya Tak Penting?

0 komentar:

Posting Komentar