Kamis, 18 April 2019

Teknologi Informasi | Teknologi Informasi Ipa atau Ips

Teknologi Informasi | Siapa Bilang Ilmu Sosial 
dan Budaya Tak Penting?


Teknologi Informasi Sejak bangku SMA, penjurusan IPS kerap dirasakan sebagai ruang belajar dua. Kelas bahasa bahkan di bawahnya lagi. Hal tersebut tercermin dari sedikitnya pemilih jurusan IPS. Di beberapa sekolah, jumlah ruang belajar IPS bahkan lebih tidak banyak dariruang belajar IPA. Di samping itu, tak jarang predikat bodoh, anak bandel, urakan tersemat pada anak-anak jurusan IPS dan bahasa. Cara pandang tersebut ada akarnya, yang ditelaah oleh salah satunya oleh Rognvaldur D. Ingthrosson (pdf), yang menjelaskankenapa ilmu sosial secara metodologi dirasakan terbelakang bila dikomparasikan ilmu eksakta. Alasannya, menurut keterangan dari penelusuran Ingthrosson, ilmu alam menjadi acuan untuk ilmu sosial sebab metodologi ilmu alam dinilai lebih pasti. Pendeknya, ilmu alam dengan metodologi yang ketat dirasakan lebih ilmiah, sehingga di anggap punyastatus lebih tinggi dibanding ilmu laksana sosiologi atau antropologi. Lalu, apa kabar dengan ilmu kebiasaan atau ilmu humaniora yang terdiri dari seni, filsafat, sastra, sejarah? Rumpun ini lebih nahas lagi, di anggap tidak berguna. "Nanti inginkan kerja apa?" ialah respons yang jamak andai seseorang mengatakan hendak menekuni ke bidang-bidang tersebut. Lanjutannya: "Mau bekerja (dengan pendapatan besar), ya jadi insinyur, dong!" 

Baca Juga : Hoaks Terus Beredar di Masa Tenang Pilpres 2019, Bagaimana Melawannya?

Stereotip Lama Sudah Tak Relevan Tentu saja tak terdapat yang dapat menyangkal bahwa teknologi berperan amat besar dalam peradaban insan sekarang ini. Namun, bukan berarti ilmu sosial dan humaniora ialah ilmu yang tak berguna. Humaniora bahkan dapat diolah dengan teknologi, dan menjadi sesuatu yang bernilai di era digital ini. "Kami hendak menunjukkan untuk mahasiswa calon sarjana dan pascasarjana bahwa mempelajari ilmu humaniora dalam sekian banyak  bentuknya merupakan teknik luar biasa guna menyiapkan diri menghadapi dunia di luar sana," kata Profesor Bahasa & Sastra Romanik dan Sastra Komparatif, Diana Sorensen, untuk hadirin dalam forum diskusi publik bertema "Digital Humanities: Across the Spectrum" di Universitas Harvard, Amerika Serikat, laksana ditulis website Harvard. Panelis beda dalam diskusi itu meyakinkan bahwa stereotip humanis, sebagai sosok yang terpencil di suatu pojok ruangan remang-remang, telah tak relevan lagi. Dengan proyek humaniora digital, semua humanis dapat terlibat dalam era digital. Dengan humaniora digital, semua humanis dapat dilatih penerapan teknologi informasi guna literasi digital. Contoh sederhana: pengarsipan. Orang di bidang teknologi informasi memang yang mengetahui piranti guna mengarsipkan. Namun, siapa yang paling mengetahui konten untuk destinasi literasi? Tak terdapat yang lebih meyakinkan ketimbang mereka yang terlatih menyimak naskah sastra, dokumen sejarah, teks filsafat, serta menekuni seni. Belajar dari Steve Jobs Bagaimana barangkali seni dirasakan tak berguna? Menjawab soal ini, Steve Jobs dapat dijadikan cermin. Profesor program studi wanita, gender, dan studi sexual dari Universitas Yale, Inderpal Grewal, dalam artikel di Huffington Post mengindikasikan bagaimana Steve Jobs amat terpengaruhi ruang belajar kaligrafi yang pernah diikutinya dalam mendesain Mac.


Berdasarkan keterangan dari Grewal, orang-orang berpandangan bahwa seni dan humaniora tidak bermanfaat untuk menciptakan sebuah inovasi teknologi. "Mereka tidak pernahmengasumsikan bahwa Seni dan Humaniora bisa menjadi pusat produktivitas dalam ranah ekonomi, lagipula memberikan sebuah keterampilan untuk memimpin perekonomian global," tambahnya. Film, televisi, musik, dunia seni, museum, fashion, dan konten internet,dibuat oleh semua penulis, musisi, seniman, dan desainer. Mereka melakukan tersebut semua dengan mengolaborasikan teknologi dengan inovasi ilmiah. Semua itu ialah "industri budaya" yang besar pengaruhnya untuk AS sebagai kekuatan ekonomi dunia. Lebih lanjut, Grewal mengaku produk Jobs ialah bukti bahwa humaniora dan sains-teknologi saling bersangkutan. "Keduanya [humaniora dan teknologi] ialah bagian dari satu dunia,"katanya.

Pendidikan Humaniora Itu Penting Di luar pentingnya literasi digital yang butuh melibatkan semua humanis, semua ilmuwan (ilmu alam) dan insinyur jug membutuhkan humaniora. Peraih gelar doktor bidang humaniora dari Universitas Texas, Troy Camplin,menuliskan bahwa saat menyimak karya fiksi, anda mulai berempati dengan karakter. Ia juga berasumsi bahwa karya sastra ialah wujud dari versi sangat halus dan perumahan dari cara beranggapan alami seseorang. Apabila seseorang hendak mempertajam pemikirannya, ia mesti tidak sedikit membaca karya sastra. Sastra, laksana halnya seni lain, pun membantu seseorang memicu kreativitas. Dalam sastra, ada perlintasan kreatif yang menolong orang untuk menyaksikan pola dan koneksi di bidang lain. Kreativitasingin terjadi saat salah satu teknik pikir terhubung dengan teknik pikir lain. Dari Singapura, profesor hukum internasional sekaligus diplomat senior Singapura Tommy Kohmengindikasikan apa yang harus diacuhkan di negaranya yang sedang menghadapi kendala revolusi industri keempat yang dibuka pada peralihan abad ke-21. Era ini telahmencetuskan perusahaan yang mengolah status quo, dicantaranyaAirbnb,Grab,danAlibaba.

Baca Juga : Intip Perkembangan Media dan Tren Baru Masyarakat Digital

Dalam tulisannya di Channel News Asia, Koh menuliskan bahwa dunia sedang diolah oleh robot, artificial intelligence, Internet of Things, big data, kota cerdas, block chain, sharing economy, financial technology, dst. Oleh karena tersebut menurut keterangan dari Tommy, Singapura mesti mempersiapkan pemuda dengan pengetahuan, keterampilan, dan pola pikir guna memanfaatkan kesempatan baru. "Hal ini yang mendasari pemerintah menekankan soal pembangunan STEM (Science, Technology, Engineering, dan Mathematics)," kata Tommy Koh. Seperti Inderpal Grewal, Koh pun menjadikan Steve Jobs sebagai contoh. Berdasarkan keterangan dari Koh, Jobs sukses memanfaatkan ilmu kaligrafinya guna mendesain keyboard komputer Macintosh. Itulah yang memisahkan Jobs dari semua pesaingnya. Tommy Koh pun mengutip omongan Jobs ketika merilis iPad edisi terbarunya: "Kami di Apple paham bahwa teknologi saja tidak cukup--teknologi yang dikawinkan dengan liberal arts, dikawinkan dengan humaniora-lah, yang hasilnya bakal membahagiakan hati kita." Berdasarkan pengalamannya sebagai diplomat, Koh mengindikasikan bahwa belajar sastra dan sejarah ialah hal yang penting. Berdasarkan keterangan dari Koh, menghindari belajar sejarah akan mencelakakan kita ke dalam masalah dan sebaliknya, mempelajari sejarah bakal memberdayakan siapa juga yang mempelajarinya. Memahami sejarah suatu negara memudahkan ia mengetahui dan berinteraksi dengan negara tersebut.

Soal sastra, Koh memandangnya menolong seseorang guna berpikir, menulis, dan berkata dengan jelas. Baginya, revolusi industri keempat tidak menciptakan studi mengenai humaniora tidak relevan. "Kita mesti mempelajari humaniora karena tersebut akanmenolong kita beranggapan secara analitis, mencatat dengan jelas dan berkata secara persuasif," tulisnya. Oleh sebab itu, menurutnya Singapura perlu mencoba pendidikan holistik. "Apa yang diperlukan dunia ialah untuk mendidik anak-anak muda anda baik dalam ilmu pengetahuan dan kemanusiaan. Kita membutuhkan berpengalaman teknologi yangmengetahui humaniora dan humanisyangmemahamiteknologi,"tulisKoh.

0 komentar:

Posting Komentar