Jumat, 12 April 2019

Teknologi Informasi | Teknologi Informasi dan Fungsinya

Teknologi Informasi | BPPT Pasang Pendeteksi 
Tsunami di Selat Sunda



Teknologi Informasi  - Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) hari ini, Rabu (10/4) memberangkatkan kapal penelitian Baruna Jaya IV ke Selat Sunda guna memasang buoy atau perangkat pendeteksi tsunami.
Alat pendekteksi tsunami generasi ketiga karya anak bangsa ini diberi nama buoy Merah Putih. Satu buoy dipasang pascatsunami yang menerjang distrik dan pesisir Selat Sunda Desember 2018. Proses pemberangkatan dan pemasangan diduga memakan masa-masa empat hari.
     Kepala BPPT Hammam Riza mengatakan, pemasangan buoy Merah Putih ini sebagai upayamembina kembali sistem peringatan dini mitigasi bencana tsunami cocok arahan Presiden dalam rapat terbatas kesiapsiagaan bencana Januari 2019.
"BPPT mengerjakan kaji terap teknologi cocok dengan tugas pokok dan kegunaannya membangun teknologi multibencana dan meminimalisir risiko terutama melalui peringatan dini tsunami," katanya di sela-sela pemberangkatan Kapal Baruna Jaya IV di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Rabu (10/4/2019).
Hammam menjelaskan, buoy generasi 3 ini diciptakan sekitar dua bulan 10 hari ini adalahpembaruan dari buoy generasi 1 dan 2 yang pernah diciptakan BPPT tahun 2006-2013.
"Buoy generasi 1 dan 2 sudah diciptakan dan dioperasikan bareng buoy beda dari negarakawan pascatsunami Aceh tahun 2004," ucapnya.
Namun dalam perjalanannya, buoy rawan kerusakan dampak vandalisme. Hammam menegaskan, buoy generasi 3 ini mesti membalas tantangan vandalisme.
     Akhirnya, BPPT membuat supaya komponen tidak unik para perusak, pencuri terhadap infrastruktur di lautan lepas ini. Komponen buoy ini pun ada unsur yang mengambang danpun ocean bottom unit atau unit ditaruh di dasar laut.
Di samping memasang buoy, BPPT pun memasang kabel bawah laut atau cable base tsunameter (CBT) sepanjang 3 kilometer dari Pulau Sertung. Pendeteksi berbasis kabel ini diinginkan memperkuat pemantauan potensi tsunami.
Hammam bercita-cita di tahun 2019 bila perkiraan mendukung, BPPT bakal memasang tiga buoy lagi di sebanyak perairan Indonesia rawan tsunami laksana di Sumatera unsur barat, Papua, unsur selatan Jawa, dan Sulawesi serta dua titik CBT di Pulau Sertung, dan Mentawai.
"Indonesia mesti punya sensor di seluruh area rawan bencana, pesisir pantai, area industri dan wisata. Apalagi anda punya cita-cita menjadi poros maritim dunia. Artinya semuanya mesti dimulai," paparnya.
     Waktu berharga untuk pengungsian di tengah ancaman tsunami (golden time) di Indonesia lanjutnya melulu 10-15 menit. Artinya peringatan dini mesti memberi informasi yangdapat mengarahkan pengungsian cepat dan selamat.
Hammam menyebut, satu buoy dari pembuatan, pemasangan sampai pemeliharaan satu tahunmenjangkau Rp 5 miliar. Pemasangan buoy berikutnya, BPPT bakal melibatkan industri strategis di Indonesia.
Ditargetkan dalam kurun masa-masa tahun 2020-2024 Indonesia dapat mempunyai 10 buoy dan 2.000 kilometer CBT
Turut muncul dalam pelepasan Kapal Baruna Jaya IV, Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Dwikorita Karnawati, Kepala Badan Informasi Geospasial Hasanuddin Z Abidin, Direktur Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Bernardus Wisnu Widjaja dan staf berpengalaman Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi bidang infrastruktur Hari Purwanto.

0 komentar:

Posting Komentar