Jumat, 05 April 2019

Teknologi Informasi | Teknologi Informasi Adalah Brainly

Teknologi Informasi | Mengenal Likuifaksi, Fenomena
 'Tanah Bergerak' Gempa Palu



Teknologi Informasi  - Gempa bumi yang mengguncang Donggala dan Palu, Sulawesi Tengah pada Jumat (28/9) memunculkan gejala tanah bergerak atau likuifaksi. Fenomena itu diketahui terjadi di Sigi, Sulawesi Tengah.

Dewan penasehat Ikatan Ahli Geologi Indonesia Rovicky Dwi Putrohari menyatakan likuifaksi terjadi sebab adanya getaran gempa, bukan sebab tsunami. Fenomena ini menurutnya tidak sedikit dan nyaris semua gejala kegempaan hadir likuifaksi.

"Likuifaksi terjadi sebab ada getaran gempa yang merangsang terjadinya fraksi (butiran) kasar yang terkumpul di bawah dan butiran halus serta air bakal keluar," jelas Rovickyuntuk CNNIndonesia.com melewati pesan singkat, Minggu (30/9).
Fenomena ini menyebabkan turunnya daya dkung tanah terhadap desakan di atasnya. Likuifensi merupakan gejala alamiah yang terjadi sebab adanya kegiatan kegempaan.

"Likuifaksi ini bila diibaratkan laksana kita sedang mengetuk-ngetuk toples guna memasukkan sebuah benda agar ada tidak sedikit yang masuk ke dalamnya. Inimengakibatkan cairan atau material halus sedang di atas," imbuhnya.

Rovicky yang telah lebih dari 25 tahun berkecimpung di bidang geologi ini menuliskan likuifaksi terjadi pada lapisan di bawah tanah ang seringkali berupa butiran berukuran pasir. Air yang tersimpan di dalamnya bakal ikut terbawa terbit ketika terjadi likuifaksi.

Proses berikut yang lantas membuat tanah bercampur air menjadi lumpur yang terbit dari dalam perut Bumi.
Untuk terhindar dari likufaksi, ia mengatakan seringkali lapisan tanah yang berupa pasir dikeringkan sebelum menciptakan bangunan di atasnya. Bagi konstruksi bangunan bertingkat tinggi, menurutnya terdapat soil boring untuk menyaksikan apakah terdapat hal-hal yang dikhawatirkan terjadi likuifaksi.

Soil boring sendiri adalahteknik yang digunakan untuk mensurvei tanah dengan mengambilsejumlah inti dangkal dari sedimen. Teknik ini paling penting dipakai sebelummengerjakan pengeboran untuk penyelidikan lepas pantai guna menilai situasi tanah.

"Perlu disalin likuifaksi ini bukan dampak beban di atasnya, tetapi dampak getaran gempa. Namun, fenomena likuifaksi dapat merusak konstruksi di atasnya," ucapnya.

Sebelumnya, Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho dalam konferensi media membetulkan adanya gejala likuifaksi yang merangsang kemiringan tertentu dampak diguncang gempa dan longsor.

"Likuifaksi ini menciptakan material tanah menjadi padat laksana lumpur. Terjadi sebab ada kemiringan tertentu dampak diguncang gempa, akibatnya terdapat permukaan tanah yang naik dan turun," jelas Sutopo di tengah konferensi media.

0 komentar:

Posting Komentar