Selasa, 09 April 2019

Teknologi Informasi | Teknologi Informasi E-Commerce

Teknologi Informasi | Kemenperin ingin produk
 IKM banjiri E-Commerce


Teknologi Informasi  - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengharapkan produk yangdidapatkan pelaku industri kecil dan menengah (IKM) domestik membanjiri platform eCommerce.
“Saat ini, dunia telah menginjak era digital economy, di mana model bisnis yang tidak sedikit dijalankan ialah berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Nantinya produk IKM domestik akan bisa membajiri eCommerce Indonesia,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada acara e-Smart IKM 2019 “IKM Go Digital” belum lama ini.
Dijelaskannya, upaya pengembangan IKM melewati pemanfaatan teknologi digital ini guna memacu IKM nasional supaya berdaya saing global dalam berperan pada penerapan revolusi industri 4.0.
Airlangga meyakini, pemakaian teknologi era revolusi industri 4.0 akandapat mendongkrak produktivitas industri manufaktur secara efisien,tergolong sektor IKM. Bahkan, produk-produk yang dihasilkan akan lebih kompetitif dan inovatif.
"Ke depannya, investasi bisnis akan ingin mengarah kepada kegiatan usaha dengan platform yang anda kenal dengan istilah industri 4.0,” ungkapnya.
Sejak Januari 2017, Kemenperin sudah berupaya melakukan pendidikan dan pembinaan terhadap IKM di domestik untuk dapat masuk dalam e-commercemelewati program e-Smart IKM. Hal ini adalahlanglah konkret pemerintah dalam memudahkan dan memperluas akses pasar untuk IKM nasional sekaligus memperbesar presentase produk Indonesia “unjuk gigi” di eCommerce.
“Kegiatan workshop e-Smart IKM ini supaya penjualannya mereka dapat masuk melewati ekonomi digital. Tujuannya pun mempermudah akses pasar, akses keuangan, menambah kualitas produk, serta diperkenalkan dengan markteplace dan e-payment,” paparnya.
Kemenperin mencatat, sampai akhir tahun 2018, Workshop e-Smart IKM telahdibuntuti sebanyak 5.945 pelaku usaha dengan total omzet sebesar Rp2,37 miliar. Berdasarkan sektornya, industri makanan dan minuman mendominasisampai 31,87% dari total transaksi di e-Smart IKM, lantas disusul sektor industri logam sebesar 29,10%, dan industri fesyen sebesar 25,87%.
     “Hingga tahun 2019, ditargetkan dapat mencapai total 10.000 peserta guna ikut dalam program ini,” ungkap Dirjen IKMA Kemenperin Gati Wibawaningsih.
Sampai ketika ini, program e-Smart IKM yang dilakukan hingga di 34 provinsi, sudah melibatkan sejumlah pihak, laksana BI, BNI, Google, iDeA serta Kementerian Komunikasi dan Informatika. Di samping itu, menggandeng pemerintah provinsi, kota dan kabupaten.
“Program e-Smart IKM pun telah berkolaborasi dengan marketplace laksana Bukalapak, Tokopedia, Shopee, BliBli, Blanja.com, Ralali, dan Gojek Indonesia,” sebut Gati.
Lebih lanjut, program e-Smart IKM bakal pula memfasilitasi pelaku usahasupaya dapat mengakses pasar yang lebih luas melewati kerja sama dengan ATT Group selaku Authorized Global Partner Alibaba.com di Indonesia.
“Kerja sama ini mencakup pelatihan pemasaran online untuk IKM dalammengemban operasional di dalam Alibaba.com serta pertukaran data dan informasi tentang perkembangan dan pencapaian IKM yang masuk di dalam program e-Smart IKM,” paparnya.
IKM sebagai unsur dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), sampai saat ini berjumlah sejumlah 4,4 juta unit usaha atau selama 99% darisemua unit usaha Industri di Indonesia. Dari jumlah uniit usaha tersebut, menyerap tenaga kerja sejumlah 10,5 juta orang atau 65 persen dari total tenaga kerja sektor industri secara keseluruhan.
     Menperin mengungkapkan, terdapat empat aspek yang dapat menyusun IKM lebih berdaya saing di pasar global. “Yaitu, mempunyai karakteristik produk, pengembangan produk dan SDM yang berkualitas, pemanfaatan era digital dan pola pemasaran yang baik,” ujarnya.
Berdasarkan keterangan dari Airlangga, dalam upaya penambahan aspekkarakteristik produk, salah satu pekerjaan yang dilaksanakan Kemenperinialah pemberian penghargaan One Village One Product (OVOP). “Ajang ini adalahsebuah program yang bertujuan guna mengembangkan produk unggulan khas dari wilayah sehingga dapat untuk menjebol pasar global.”ungkapnya.
Aspek berikutnya, guna pengembangan produk Kemenperin memfasilitasi guna pemberian Standar Nasional Indonesia (SNI), sertifikasi Good Manufacturing Practices (GMP), serta Hazard Analysis Critical Control Point (HACCP).
     Guna membina SDM berkualitas, Kemenperin mempunyai program pengembangan SDM industri yang mencakup pendidikan vokasi mengarah ke dual system model Jerman, pembangunan politeknik atau akademi komunitas di area industri, serta pembangunan link and match SMK dengan industri.
Selanjutnya, edukasi dan pelatihan sistem 3 in 1, sertifikat kompetensi tenaga kerja industri, serta pengembangan SDM mengarah ke industri 4.0. “Sementara itu, dalam pemanfaatan era digital, salah satunya ialah melalui penumbuhan startup pada bidang teknologi industri 4.0,” jelasnya.
Program Making Indonesia 4.0 Startup adalahterobosan baru yangdiinginkan dapat menjadi stimulan timbulnya ekosistem startup di bidang teknologi industri 4.0 serta dapat menciptakan produk yang menolong sektor industri menambah efisiensi dalam urusan biaya, energi, dan waktu.
Sedangkan, aspek terakhir ialah pola pemasaran yang baik. Kemenperin telah mengenalkan program e-Smart IKM yang mempertemukan IKM dengan marketplace untuk ekspansi akses pasar, sampai-sampai produk IKM tidak hanya dipasarkan offline namun pun online.(wn)

0 komentar:

Posting Komentar